Selasa, 30 April 2013

Kekuatan hati

Banyak orang sangat meyakini bahwa kekuatan pikiran positif dapat membawa manusia meraih kesuksesan dalam mencapai tujuannya. Memang, tidak diragukan lagi, kalau kekuatan pikiran positif ini dan membawa manusia pada kesuksesan dalam meraih tujuannya. Mereka yang dapat mengarahkan pikirannya selalu kearah positif, maka diyakini bahwa hasilnya adalah sesuatu kehidupan yang positif juga.

Meskipun demikian, kita sebagai manusia yang memiliki keyakikan keimanan kepada Allah, sebaiknya menyadari bahwa bukan hanya mengandalkan kekuatan otak semata, bukan hanya mengandalkan akal dan kekuatan pikiran semata. Karena sesungguhnya ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal dan pikiran. Kekuatan ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih sukses namun juga mampu mengantarkan manusia pada kemuliaan hidup. Yakni kekuatan hati atau kekuatan hati yang positif, kekuatan hati yang jernih. Kekuatan hati ini memiliki kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia. Karena hati adalah rajanya, hatilah yang mengatur dan memerintahkan otak, pikiran dan panca indra manusia. Tuhan melalui berbagai ajaran yang dibawa oleh para Nabi, maupun melalui kitab suci-NYA telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mendengarkan suara hati nuraninya.

Mengajarkan manusia untuk dapat memelihara kejernihan hatinya, sehingga sifat-sifat mulia yang tertanam dalam hati dapat memancar ke permukaan. Karena di dalam hati manusia sudah tertanam “ built in” percikan sifat-sifat “Illahiah” dari Allah Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Diantara sifat-sifat mulia Allah yang tertanam dalam hati manusia adalah sifat kepedulian, kesabaran, kebersamaan, cinta dan kasih sayang, bersyukur, ikhlas, damai, kebijaksanaan, semangat, dan lain sebagainya. Karena itu sesungguhnya kekuatan hati ini sangat “powerfull”untuk meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan.

Di dalam hati tempatnya pusat ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan sejati yang hakiki. Bahkan hati merupakan cerminan dari diri dan hidup manusia secara keseluruhan. Di dalam hati terdapat sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, kecerdasan emosional, serta penuntun bagi manusia dalam meraih kemajuan spiritualnya. Hati menjadi tempat di mana sifat-sifat mulia dari Allah swt Sang Pencipta Kehidupan bersemayam. Hati adalah tempat dimana semua yang hal yang terindah, hal yang terbaik, termurni, dan tersuci berada di dalamnya.

Dengan demikian, kekuatan hati ini sangat “powerfull” dan sangat dahsyat dalam membawa manusia meraih sukses dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan. Hati yang jernih akan melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani. Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu betindak bijaksana, memiliki semangat positif, cerdas dan berbagai sifat-sifat mulia lainnya.

Dengan hati yang jernih, kita dapat berpikir jernih dan menjalani kehidupan dengan lebih produktif, lebih semangat, lebih efisien dan lebih efektif untuk meraih tujuan.

Hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya. Karena Hati adalah tempat bersemayamnya Iman, dengannya kita bisa berkomunikasi dengan sang Khaliq. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Hubungan yang dilandasi kejernihan hati dapat menjadikan hubungan yang lebih sehat, baik dan konstruktif dengan siapapun. Karena hubungan yang dilandasi kejernihan hati akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati. Hubungan dengan manusia akan terasa menyenangkan, menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Dengan demikian akan semakin banyak orang lain yang akan memberikan dukungan bagi kesuksesan kita.

Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan otak semata. Karena otak atau pikiran merupakan sesuatu yang terbatas dan bersifat sementara. Berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani, menggunakan kekuatan kejernihan hati dengan seimbang.

Gunakanlah kekuatan hati yang positif, karena dialah sesungguhnya diri sejati Anda. Hatilah tempat sifat mulia Allah swt Sang Pencipta bersemayam di dalam diri kita. Dengan senantiasa menggunakan kekuatan hati, mendengarkan suara hati, akan membawa manusia menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Kalau seseorang dapat merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan hati, maka akan memiliki hidup yang penuh dengan Sukses dan kemuliaan.

Namun, berbagai godaan kehidupan modern seringkali dapat mengotori kejernihan hati. Sikap egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti ambisi meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan berbagai emosi-emosi negatif seperti amarah, dendam, benci dan iri hati dapat menjadikan kejernihan hati terbelenggu, Hati yang terbelenggu cahaya kejernihannya tidak dapat memancar ke permukaan. Inilah yang dapat melemahkan kehidupan spiritual umat manusia.

Kalau dibiarkan, dapat menjadikan kita semakin sulit mendengarkan bisikan hati dan lebih mempercayai atau mengandalkan kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata. Inilah yang akan melahirkan ketidak seimbangan antara kemampuan nalar dengan hati nurani, sehingga melahirkan berbagai masalah dalam kehidupan.

Jadikanlah hati nurani Anda sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Berusahalah menjaga kejernihan hati, agar rahmat dan berkah dari Allah senantiasa mengalir dan memberikan yang terindah untuk hati, perasaan dan seluruh diri kita.

Selasa, 09 April 2013

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUQ TERTINGGI


Banyak syukur kepda Alloh Ta’ala, bisa merasakan nikmat dari Alloh Ta’ala. Bagaimana pun nikmatnya dunia ini, bila diberikan kepada satu orang, tapi tidak dirasakan nikmat, apakah bisa mensyukuri? Tidak bisa.
Harus disadari seluruh dunia ini adalah lokam (kulit, sepet) dan berliannya adalah kita ini. Isinya dunia adalah manusia, lainnya manusia bukan isi, walaupun dunia ini ada bintang bulan, lautan, tapi kalau tidak ada manusia, maka namanya dunia kosong, dunia suwung, jadi isinya adalah manusia. Rumah ini juga demikian, ada lemari, ada meja-meja, dan sebagainya, tapi kalau manusianya tidak ada maka dikatakan rumah kosong.
Berliannya hidup adalah manusia, kompas hidup ini adalah manusia, jadi ikhtisarnya alam semesta ini adalah manusia. Silahkan dicari pada diri kita ini, gunungnya mana,alasnya (hutannya) mana, harimaunya mana, kancilnya mana, malaikatnya mana, bidadarinya mana, ini kalau mau mencari akan ketemu semua. Jadi puncak-puncaknya  makhluq Alloh ini adalah manusia. Dari tanah naik-naik sampai Sulalah, macam-macam zat, ada tumbuh-tumbuhan, terus naik, akhirnya jadi Darah, Nuthfah, akhirnya jadi Alaqoh, Mudlghoh, sampai akhirnya jadi manusia, kalau sudah jadi manusia (Insan kamil) ini sudah puncak. Puncak dalam istilah bahasa Arab adalah Muntaha. Jadi kedudukannya manusia  itu puncak, silahkan di lihat dalam surat An Nas, kedudukannya manusia itu disebutkan setelah Robbi berikutnya Nas, setelah Malikiberikutnya Nas, setelah Ilahi berikutnya Nas. Jadi  kedudukannya di atas manusia ini adalah Tuhan, di bawahnya Tuhan adalah manusia, dan di bawahnya manusia adalah seluruh alam. Jadi posisi kita itu di tengah-tengah.
Malaikat kedudukannya kalah bila dibanding dengan kedudukannya manusia, itu namanya Muntaha. Silahkan… boleh mengkritik, ini tasawwuf kok.
Menetapkan posisi ini sulit, di atas Tuhan, kemudian di bawahnya manusia, dan di bawahnya manusia adalah seluruh alam, yang seluruh alam ini adalah untuk manusia. Itu bukan masalah tempat, tapi kedudukan derajatnya. Seluruh alam ini mengabdi kepada manusia, ini perintah Alloh :
SAKHOROLAKUM MAA FIS SAMAAWATI WAMAA FIL ARDLI
“(Alloh) telah menundukkan untukmu  semua apa-apa yang ada di lagit dan apa-apa yang ada di bumi.” (QS. Luqman : 20)
Ditundukkan semuanya untuk manusia, maka silahkan dinaiki. 

Dunia kendaraan akhirat
Dawuhnya Kanjeng Nabi :
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : ALLAILU WAN NAHAARU MATHIYATAANI FARKABUUHUMAA BALAGHUN ILAL AKHIRAH
“Bersabda Rosululloh SAW. : Malam dan siang segala isinya ini adalah kendaraan, naikilah sampai kepada akhirat.”
Jadi dunia supaya ditumpangi/dinaiki, jangan sampai dinaiki dunia, yang dilarang adalah dinaiki dunia. Kalau menumpangi dunia memang diperintah, tapi kalau kita ditumpangi dunia maka akan rusak, bejat. Kalau menumpangi dunia itu enak, nyaman, karena dunia ini adalah kendaraan. Ibarat kendaraan bisa yang baik bisa yang jelek, tidak jadi masalah asal syukur.
Syukur itu tulisannya SYIN, KAF, RO’, bacanya SYAKARO artinya telah syukur. Tapi kalausyin titik tiga ini titik tiganya hilang, bunyinya SAKARO artinya telah mendem /tidak sadar, karena tiga titik itu rahasianya syukur. Satu persatu titik ini ada artinya sendiri-sendiri, titik satu apa artinya, titik dua apa artinya, dan titik tiga apa artinya. Lain kali akan kami tulis masalah Syukur ini

Senin, 11 Maret 2013

LETAK KEMULYAAN DAN KEJAYAAN

TAQWA ITU BISA MENJADI PENETRAL DARI BAHAYA

Taqwa itu disamping menjadi benteng, juga bisa menjadi penetral dari bahaya. Termasuk penetral dari bahaya kekayaan.
Sebagaimana dalam hadis Nabi diterangkan bahwa : Dengan taqwa itu maka meskipun kaya, tidak akan berbahaya.
Buktinya seperti : Nabiyulloh Sulaiman, Nabiyulloh Ibrohim, Nabiyulloh Yunus, shohabat Abu Bakar, Shohabat Zubair dan seterusnya, karena taqwanya kepada Alloh maka mereka semuanya tidak sampai kena terpedonya kekayaan.

Jadi taqwa itu bisa untuk menetralkan diri.
Diwaktu kaya bila taqwa maka kekayaannya tidak membahayakan.
Diwaktu fakir bila taqwa maka kefakirannya tidak membahayakan.
Begitu pula diwaktu dalam keadaan sehat – taqwa, sakit – taqwa, dipuja orang – taqwa, dicacat juga tetap taqwa, maka semua keadaan itu tidak akan membahayakan kita.
TAQWA MENJADI LETAKNYA KEMULYA-AN DAN KEJAYA-AN.

Semua manusia itu mesti hidupnya ingin mulya, ingin jaya. Tidak ada satupun manusia yang hidupnya ingin hina. Hanya saja dalam menilai dimanakah letaknya kemulyaan dan kejayaan manusia itu berbeda-beda.
Diantaranya :

1. Ada yang berpendapat bahwa letak kemulyaan dan kejayaan manusia itu ada pada kekayaan yang melimpah.

Pendapat ini adalah tidak benar, mungkin bagi pandangan manusia benar, tapi bagi Alloh tidak benar. Kalau memang letaknya kemulyaan dan kejayaan itu ada pada kekayaan yang melimpah, tentunya masih lebih mulya gunung. Karena didalam gunung itu tersimpan banyak kekayaan, didalam gunung itu terdapat banyak emas, berlian, besi, perak dan lain sebagainya. Beda dengan manusia, kalau manusia itu lahirnya tidak membawa apa-apa, tidak membawa pakaian, tidak membawa sandal, tidak membawa sepatu dan bahkan yang dikeluarkan dari tubuhnya juga kotor. Adapun bisanya punya pakaian, sepatu dan lain sebagainya adalah karena hadiah dari alam, hadiah dari tumbuh-tumbuhan. Dan seandainya tidak diberi hadiah dari alam pula, maka manusia tidak akan punya perhiasan, tidak punya kendaraan, tidak punya rumah dsb. Jadi manusia itu pada dasarnya miskin, asalnya tidak punya apa-apa, lahirnya telanjang. Tapi walau begitu, kadang setelah lahir kedunia dan kaya, merasalah jadi mulya sehingga menjadi sangat sombong. Sebenarnya dia itu kaya apa sih, semuanya toh hanya hadiah saja dari alam.

Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan manusia itu ada pada kekayaan maka jadinya seluruh hidupnya difokuskan kesana. Segala susah payah ditempuh, yang jauh dijelang, yang dekat dihampiri, bahkan kadang sampai menempuh silang sengketa, berbelah rotan, bertolak punggung antara anak dengan bapaknya demi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal kalau sudah banyak harta, biasanya terus menjadi budaknya harta, menyembah harta. Bila malam tiba, sering tidak bisa tidur kuatir hartanya ada yang mencuri. Mendengar suara kretek saja sudah bingung dikiranya maling padahal hanya tikus. Jadi dia itu malah menjadi penjaga hartanya, tersiksa oleh hartanya.

Tragisnya lagi, orang lain yang sepertinya menghormati dan mentaati itu kadang hanya semu belaka. Mereka itu mungkin menghormati hanya karena hartanya, bukan karena orangnya. Sehingga selama masih beruang dia masih disayang, banyak orang-orang yang mendatanginya. Tapi kalau dilihat uangnya sudah habis (tidak kaya), dia tidak lagi dihormati. Dan orang-orang yang dulunya sering menemani, sekarang tidak mau muncul lagi. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kesimpulannya: Yang pasti kemulyaan dan kejayaan itu bukanlah terletak pada kekayaan.

2. Ada lagi yang menganggap bahwa letak kemulyaan itu ada pada manfaat tubuhnya.

Kalau yang mejadi ukuran kemulyaan manusia itu ada pada manfaat tubuhnya maka masih lebih mulya sapi. Coba perhatikan sapi itu, tulangnya bisa dibuat kancing baju, tanduknya bisa dijadikan sisir, dagingnya bisa dimakan, susunya bisa diminum, kotorannya bisa dibuat pupuk, sedangkan manusia, mana ada tulangnya yang dijadikan kancing baju ?. Begitu kok membangga-banggakan manfaat tubuhnya.

3. Ada lagi yang menganggap bahwa kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya, pada ketampanannya.

Padahal soal ketampanan manusia, kalau difikir sebenarnya tidak lebih bagus dari kucing. Coba kalau manusia itu rambutnya tidak di sisir satu hari saja, pasti rambutnya sudah modal madul, kelihatan jelek. Tapi kalau kucing, dari lahir sampai mati tidak pernah bersisir sudah rapi terus.

Bagi yang berkeyakinan letak kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya atau ketampanannya, maka setiap hari kerjanya hanya bersolek saja, cuma mengatur keindahan tubuhnya. Bersisirnya saja dalam satu hari berulang kali, tapi akhlaqnya tidak pernah disisir. Sepatunya setiap hari juga digosok atau disemir, tapi hatinya tidak pernah digosok. Kalau mengaca, kacanya saja sampai dobel 6, ada yang untuk mengacai rupanya, ada yang untuk mengacai telinganya, pantatnya dan lain-lainnya. Cara jalannya juga ditata biar kelihatan indah kalau jalan, sehingga kadang berjalan mondar-mandir didalam kamar untuk latihan jalan yang baik. Lembehan tangannya juga diatur agar tampak indah. Kemudian kalau sudah bisa masuk koran atau televisi, menjadi bangga.

Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan itu ada pada ketampanannya maka segala perhatiannya ditumpahkan kesitu. Padahal ketampanan itu hanya bayangan, sedangkan banyangan tidak mempunyai ukuran tertentu. Mungkin sekarang tampan tapi tunggu, sebentar lagi pasti peot.

Bila kemulyaan itu dianggapnya terletak pada ketampanannya, lalu bagaimana bila ketampanannya sudah hilang (Entah karena sudah tua atau lainnya)?. Berarti dia sudah tidak mulya lagi sehingga tidak dihormati lagi. (Karena yang dihormati bukan akhlaqnya melainkan ketampanannya).

Ini tadi adalah bagi pria yang disebut dengan istilah tampan atau ketampanan. Sekarang bagi wanita yang disebut dengan istilah cantik.

Ada manusia itu yang sangat membanggakan kecantikannya. Dan ada yang karena sangat cantiknya, sampai diceritakan dengan berlebihan, yaitu : Bila melewati suatu sungai, aliran sungainya seakan berhenti karena ingin di sentuh oleh wanita cantik tersebut. Bila berada dibawahnya bunga, bunganya akan doyong sendiri seakan menawarkan diri untuk dipetik oleh si wanita cantik itu. Dengan kecantikan yang demikian ini membuatnya sangat bangga. Padahal kecantikan dhohir itu tidak akan lama, sebentar lagi pasti rontok. Sebagaimana tidak lamanya terangnya mata, mata yang semula terang, tidak lama kemudian harus memakai kaca mata. Di ikuti dengan tubuh yang asalnya tegak, lalu berubah memakai tongkat. Gigi yang asalnya utuh, kemudian jadi pretel (rontok). Kulit yang asalnya kenceng, kemudian berkeriput. (Katanya : Kalau keriput, ya oprasi plastik. Akhirnya setelah oprasi plastik, tambah rusak).

Walau kecantikan itu dibangga-banggakan, bila sudah pudar ya tidak beda dengan nasibnya bunga mawar yang semula indah kemudian rontok, yaitu : tidak ada lagi yang memperhatikan nasibnya. Bahkan rontokannya (yang pernah membuatnya indah) ketika jatuh ketanah, terinjak-injak oleh orang yang lewat, juga terinjak-injak hayawan, tidak ada yang merasa sayang. Coba apa ada orang yang setelah melihat protolan bunga yang sudah jatuh ketanah (yang sudah campur dengan debu) itu kemudian mengumpulkan nya lagi untuk disimpan ?. Tidak ada kan.

Jadi kalau ada orang yang hanya mengandalkan ketampanannya atau kecantikannya saja berarti sama dengan mengandalkan bayangannya saja. Padahal bayangan itu sebentar lagi pasti akan hilang. Dan disitu juga bukan letaknya kemulyaan manusia.

4. Ada juga yang beranggapan bahwa kemulyaan itu terletak pada pangkat dun-yawiyyah. Seperti tanda pangkat bintang emas, jadi pejabat dan lain sebagainya.

Anggapan ini juga kliru. Dan juga orang yang menghormati pangkat itu hanyalah sementara, yaitu sementara bila dipundaknya masih ada pangkatnya (masih tersandang bintang emasnya) atau masih menjadi pejabat. Bila sudah tidak ada pangkatnya (pensiun) atau sudah tidak jadi pejabat, ya tidak dihormati lagi, karena memang yang dihormati itu bukan orangnya melainkan kedudukannya (pangkatnya).

Adapun yang benar masalah letak kemulyaan dan kejayaan itu ada pada taqwalloh. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Alqur-an :
INNA AKROMAKUM 'INDALLOOHI ATQOO KUM. (Al hujurot ayat 11).
Artinya :" Sesungguhnya semulya-mulyamu di sisi Alloh adalah yang paling taqwa diantara kamu".

Coba perhatikan wali 9 itu, meskipun sudah hancur menjadi debu, tetap saja banyak didatangi orang, padahal tidak ada yang menyuruhnya ziarah. Lihat sendiri di makamnya Sunan bonang, Sunan Ampel, bukankah yang datang itu terus menerus dan banyak sekali ?. Karena banyaknya yang menziarahi, sehingga bisa memberi penghidupan kepada sekitarnya (memberi kehidupan orang banyak). Kalau demikian coba anda pikir-pikir, kira-kira yang hidup itu yang mana?.

Para peziarah juga tahu bahwa yang didatangi itu kuburan dan seandainya yang didalam kubur itu dipanggil namanya, ya diam saja, karena memang kuburan. Pernah juga kami waktu di Kudus (di makamnya sunan Kudus), ditembok makamnya itu ada tulisan permintaan, yaitu minta agar segera dapat jodoh. Bunyi tulisannya : " Sunan Kudus, saya ingin cepat mendapat jodoh ". Yang begini ini bagaimana ?. Ya tidak dijawab oleh Sunan Kudus, karena sudah wafat. Walau begitu tetap saja banyak orang yang datang, ada yang datangnya untuk mendoakan misalnya dengan membaca surat Yasin, ada yang mengharap dapat barokahnya, ada yang mengharap agar cepat dapat jodoh dan lain sebagainya.

Adapun ramainya peziarah wali 9 itu adalah karena Taqwanya wali 9 dan taqwanya itu abadi.

Minggu, 13 Januari 2013

CINTA JASMANI ROHANI

Dalam mengamalkan dzikir ada yang menggunakan cara/thoreqat, yang mengamalkan dzikirnya selain diucapkan dengan bibirnya, juga diisikan didalam ingattannya, sehingga memperoleh kemantapan dan rasa meresap kedalam hati maknawi, hati sirri – iman.

Menurut Imam Al-Ghazali, HAKIKAT INSAN /maknawi-siiri-Iman / latifah , juga tempat jumpanya ma’rifat kepada Allah dan juga wadahnya NUR ILLAHI, sehingga disitulah dianugrahi Mukasyafah dan Musyahadah.

Dalam Hadist Hadist Qudsi : Artinya:
“Firman Allah, AKU jadikan pada anak Adam(manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada itu ada qalbu(tempat bolak balik ingatan), didalamnya lagi ada fuad(jujur ingatannya), didalamnya pula adasyagof(kerinduan),juga didalamnya ada lubbun(merasa terlalu rindu), dan didalamnya ada sirrun(merasa mesra) didalam itulah ada AKU”

Kemudian diterangkan pula dalam hadist lainnya, yang erat hubungannya dengan hadist qudsi tersebut diatas, sebagai berikut:
            Artinya:”Manusia itu rasa KU, dan AKU dirasakan manusia”.

Uraian hadist tersebut menunjukkan bahwa manusia harus melakukan ibadah kepada Allah SWT, dengan keadaan lurus dan terarah sehingga tembus dari mulai kulit sampai isi. Jadi bukan hanya kulitnya saja yang disebut yang disebut sadrun/dada jasmani manusia semata, dan begitu juga bukan hanya isinya saja yang disebut sirrun/rasa, tetapi kedua-duanya harus dihadapkan kepada Allah SWT baik diwaktu Hablumminalloh maupun di waktu Hablumminannaas agar lebih lengkap dan sempurna.

Sesuai dengan ucapan Ulama Tasawwuf Syekh Zainuddin bin Ali Al Malibari dalam kitabnya Al Azkiya:                    Artinya;”Melakukan syari’at tanpa hakikat adalah kosong tidak berisi, sebaliknya melakukan hakikat tanpa syri’at adalah bathal”

Demikian juga ucapan Imam Al Ghazali ;”bahwa ilmunya pun harus lengkap”.
              Artinya:” Siapa orang yang berfiqih saja tanpa tasawwuf adalah fasik, sebaliknya orang-orang bertasawwuf tanpa fiqih adalah zindik, dan siapa orang yang berfiqih dan bertasawwuf maka sesungguhnya adalah benar”.

Jadi untuk itu, demi kesempurnaan mengabdi kepada Allah SWT, agar kedua-duanya dipergunakan sebagaimana mestinya. Demikian seseorang Mukmin yang Muttaqien melaksanakan isi Al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi:
              Artinya:” Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir bathin”.

Sebagaimana diuraikan didalam hadist qudsi tersebut diatas, bahwa di dalam dada ada lima rongga, yaitu Kalbu,Fuad,Syagof,Lubbun dan Sirrun, yang kesemuanya it uterus menerus dilintasi oleh godaan syetan dan bujukan nafsu.
    Oleh karena itu manusia yang mengharapkan kebahagian dan kesejahteraan lahir bathin harus sanggup dan terus berusaha untuk membendung godaan-godaan syetan dan bujukan nafsu dalam rangka mewujudkan dan mengokohkan ibadah kepada Allah SWT, pada khususnya dan beramal baik dengan sesame manusia pada umumnya.
    Dalam hal ini, didalam ilmu tasawwuf yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist harus benar-benar menggunakan thoreqat atau metode, agar berhasil dengan baik dan tepat mengenai sasaran, apakah itu yang diucapkan dan dilakukan(amalan badan jasmani), demikian juga yang diingatkan yang dimulai dari qolbun sampai ketingkat sirrun (amalan badan ruhani).
     Didalam rasa mesra itulah tempat wusulnya manusia kepada Allah, disitulah tempat rasa syukur manusia atas nikmat yang diperoleh dari Allah Yang Maha Pengasih, disitu pulalah tempat sabarnya manusia terhadap musibah dari Allah SWT.
      Juga disitulah tempat rasa kasih sayang dan tolong menolong serta rasa maaf me-maafkan dengan sesama manusia, dan disitulah tempat rasa Mahabbah kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan disitulah tempat terbukanya hijab antara abid dengan ma’bud dan disitu juga adanya rasa setia, patuh dan rela mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan rela menjauhi apa-apa yang dilarangnya(taqwa).
      Jadi kesimpulannya bahwa eseorang Mukmin yang Muttaqien telah terisi rasa cintanya merembes mengalir pada gerak kegiatannya, baik zahir maupun bathinnya selalu dipersembahkan serta diserahkan sepenuhnya kepada Allah Jalla Jalaahu.

Hal ini sebagaimana sebuah ayat Allah yang selalu kit abaca setiap melaksanakan sholat fardlu maupun sholat sunnat dalam do’a iftitah.
               Artinya:”Sesungguhnya sholatku,ibadatku, hidup dan kehidupanku, serta matiku, kami serahkan semuanya kepada Allah SWT”.

Demikianlah sekedar uraian yang dapat kami sampaikan, semoga semua penjelesan-penjelasan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin

Kamis, 06 Desember 2012

HAKEKAT CAHAYA DZIKIR


Jagad raya ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang karena ada hakikat Alloh bersamanya. Ketika pada waktu malam yang gelap gulita, kita berdiri dipuncak bukit ? apa yg dapat kita lihat melalui mata dzohir ini, hanya kegelapan yg menyelimuti yg bisa kita lihat. Apabila siang matahari menyinari bumi dengan sinarnya, maka kelihatanlah semua yg ada disekitar kita.
Cahaya mendzohirkan kewujudan ( menampakkan segala wujud ) dan gelap pula membungkusnya. Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar. Apabila kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak tampak lagi. Hanya dg cahaya yang dapat mendzohirkan kewujudan, Ini disebabkan cahaya dapat menghalau kegelapan.
Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yg menutupi benda2 alam. Maka Cahaya Nur Ilahi  pula dapat menghalau kegelapan yg menutupi hakikat-hakikat yg ghaib.
Mata dikepala melihat benda2 alam dan Mata Hati melihat kepada hakikat-hakikat yg ghaib. Banyak benda alam yg dp dilihat oleh mata karena banyaknya cermin yg memantulkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis saja yg bersumber dari cahaya matahari.
Begitu pula dg pandangan mata hati, ia melihat banyak hakikat2 karena banyak cermin hakikat yg membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan nur ilahi bersumber dari Dzat Yang Maha Agung. 
Begitu pula dengan seorang murid yg baru belajar dzikir…hatinya baru menerima limpahan cahaya Ilahi yg berupa talqin dzikir dari seorang Mursyid yang Kamil Mukamil. Maka cahaya yg diperolehnya harus dia jaga dan pelihara. Oleh karena itu petunjuk Guru Mursyid harus selalu diistiqomahkan, dzikir, wirid, do’a dan tanbih/wejangan harus selalu diamalkan.
Secara otomatis ia akan menerima  limpahan cahaya  secara ruhani sehingga cahaya yg ada di qolbunya semakin terang dan dapat menerangi diri sendiri, orang lain dan alam seisinya dari Yang Maha Agung dari Guru Agung ( Mursyidnya). Sehingga ia akan menerima sinyal pesan-pesan melalui qolbunya dari Guru Mursyidnya.

CAHAYA HITAM ADALAH LAMBANG KEBIMBANGAN
Cahaya hitam adalah hijab, untuk menyamarkan segala sesuatu :
1. Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
2. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
3. Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.
4. Yang sudah Yakin, jadi tersamar dg keyakinannya, sebab masih bingung akan keyakinannya akhirnya tidak yakin.
5. Memang benar itu hitam, ketika dipandang terus jadi tidak hitam
Cahaya hitam adalah sebuah misteri, rahasia sang pencipta, Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang2 egois, akuisme, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang2 yg sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati.
Dan orang yg dianugerahi Sang Rahasia ( Dzikir Sirri ) hidupnya akan berhasil kepuncak kebahagiaan dan kemuliaan abadi Lahir-Bathin.

Sabtu, 17 November 2012

MENCINTAI DIRI


Tiap-tiap manusia sudah tentu cinta akan dirinya. Hal ini diterangkan oleh Imam Ghozali R.A.
ANNAL INSAANA LAA YAKHFA ANNAHU YUHIBBU NAFSAHU
Artinya:" Sesungguhnya manusia tidak samar, bahwa sesungguhnya dia manusia, mesti cinta akan dirinya ".
           
Adapun bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
1. Bila ada photo satu album dan dilihat-lihat ada photo dirinya yang berjejer dengan orang lain. Setelah dilihat-lihat dan ketemu, maka waktu memandang photo dirinya sangat lama memandangnya, dan kalau memandang photo lainnya maka memandangnya itu menitan bahkan detikan (sebentar). Dan bila memandang photonya itu ternyata pantas dan senang, itu adalah alamat bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
2. Bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya, jika ia ternyata dicacat, dihina, maka timbul tidak terima, tidak ridlo.
 
3. Adanya manusia itu cinta akan istrinya, adalah bukti bahwa dia cinta akan dirinya, sebab istrinya adalah ladang bagi dirinya. Jadi masih ada hubungannya dengan dirinya.
4. Adanya manusia itu cinta akan anaknya, adalah disebabkan anak itu lestarinya dirinya sendiri. Jadi tetap artinya adalah mencintai akan dirinya sendiri. Dan adanya orang tua mencintai anak, sebab anak itu TSAMROTUL QOLBI (Anak itu buahnya hati). Sebagaimana tersebut dalam hadist nabi yang berbunyi:
QOLAA ROSUULULLOHI SHOLLALLOOHU ALAIHI WASALLAM.
ANNAA LIKULLI SYAJAROTUN TSAMROTUN, WA TSAMROTUL QOLBI AL WALADU
Artinya: Bersabda Rosululloh SAW.Sesungguhnya setiap pohon itu ada buahnya dan buahnya hati adalah anak".
 
Jadi mencintai anak, itu tidak lepas dari mencintai dirinya sendiri.

Rabu, 07 November 2012

CINTA ILLAHIYAH


Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 165 ; 
artinya: “Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah SWT”
Pengertian ayat tersebut diatas bahwa bukan berarti meniadakan cinta kepada makhluk, tetapi cintanya itu terus terarah hingga menembus sampai kepada Al-Khaliq, dan bahwa cinta kepada yang lain itu selalu dibawah naungan cinta kepada Allah Yang Maha Pencipta.
Seorang yang telah dikaruniai Allah rasa mahabbah kepada-NYA tentu juga akan mencintai dan menyayangi kepada ciptaanNYA, antara lain cinta Tanah Air, sehingga segala keadaannya menjadi terpelihara, teratur, terbina, tertib dan rapih sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya belum tentu seseorang yang mencurahkan rasa cintanya kepada makhluk semata, akan bisa sampai cintanya kepada Al-Khaliq.
Sesungguhnya mahabbah kepada Allah SWT adalah merupakan jembatan emas untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu orang-orang mukmin yang muttaqin terus berupaya untuk meningkatkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah SWT, dalam rangka memperoleh kebahagiaan didunia dan di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 64:
Artinya : “Bagi merekalah segala kebahagiaan dalam penghidupan dunia dan akhirat”.
Kemudian firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 14:
Artinya:”Manusia-manusia dihiasi rasa cinta serta keinginan diantaranya ; cinta kepada istri,kepada anak-anak dan kepada kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, juga kuda-kuda yang bagus dan binatang ternak lainnya. Demikian juga kepada sawah dan ladang dan kebun-kebun . Itulah kesenangan untuk hidup didunia. Dan kepada Allah itu sebaik-baik tempat kembali”
Pengertian ayat tersebut diatas, ialah janganlah kalah kadar cintanya kepada Allah SWT, dari cintanya kepada makhluk, sehingga Allah berfirman dalam ayat berikutnya dalam surat Al-Fajr ayat 20:
Artinya:”Dan kamu itu hanya mencintai kepada kekayaan saja”
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa semua (dunia dan akhirat) sebagai anugrah dari Allah SWT, yang diperuntukkan bagi manusia, akan tetapi manusianya sendiri karena lemah imannya sehingga terlibat hanya mencintai dunia. Oleh karena itu orang yang demikian diancam dalam Al-Qur’an surat At-Taubat ayat 20:
Artinya:”Katakanlah kepada mereka, jadi apabila Bapak-bapakmu, anak-anakmu, istri-istrimu, keluargamu, harta bendamu yang kamu dapati, dan perniagaan yang kamu takut rugi dan tempat-tempat tinggal(rumah) yang selalu kamu senangi melebihi cintamu kepada semuanya dari pada cintanya kepada Allah SWT, dan Rosulnya, serta jihad/berjuang di jalan NYA. Maka tunggulah olehmu sampai Allah SWT, mendatangkan azab-NYA, karena Allah SWT, tidak akan member petunjuk kepada orang fasik(melewati batas)”.
Pengertian ayat tersebut ialah: bahwa kita harus mengupayakan agar cintanya kepada Allah SWT. Jangan terkalahkan oleh cintanya kepada yang lain, yang mana Allah SWT member petunjuk dalam firmanNYA agar umat manusia mengikuti jejak Nabi-NYA.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 30:
Artinya :”Katakan oleh mu Muhammad, jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, hendaklah ikuti Aku, niscaya Allah menyatakan kasih sayangNYA kepadamu, juga diampuni segala dosa-dosamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa kewajiban kita semua mengikuti (menteladani) jejak langkah Nabi yang selalu menjadi panutan dan merupakan standar kita semua yang membawakan dan menyampaikan wahyu Illahi kepada ummat seluruhnya oleh kita semua, sehingga akan menyelamatkan di dunia dan di akhirat kelak.
Dan ajaran Al-Qur’an mencakup zahir bathin, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya:”Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir dan bathin”.
Kemudian sebagian isinya untuk mengatur Hablumminallah(hubungan dengan Allah) dan juga mengatur Hablumminannaas(hubungan dengan sesama manusia) dengan segala cara-caranya.
Untuk memiliki rasa cinta/mahabbah kepada Allah, Nabi Muhammad pernah menunjukkan kepada Sayyidina Ali ra.
Artinya:”Ciri – ciri cinta kepada Allah terlebih dahulu cinta dzikir kepadaNYA, dan sebaliknya, cirri-ciri membangkang kepada Allah, enggan dzikir kepadaNYA”. Semoga kita semua termasuk insane yang cinta dzikir kepada Allah agar senantiasa memperoleh rasa mahabbah/cinta kepadaNYA.

Sabtu, 20 Oktober 2012

JANGAN MENYESALI KEKURANGAN DIRI


Berhentilah menyesali kekurangan diri sehingga apa yang anda dapat dalam hidup selama ini, tidak sesuai dengan harapan yang diimpikan.
Secara Filosofis memahami sebab-sebab kekurangan diri adalah hal yang paling penting dalam anda mendapat kebahagian hidup yang anda jalani. Kenapa begitu? Karena jika kita menaruh harapanm yang terlalu tinggi dari kemampuan yang sebenarnya, ujung-ujungnya hanya akan menyebabkan diri anda merasa tertekan, bahkan tidak tertutup kemungkinan kenyataan itu akan menimbulkan penyakit kejiwaan.
 
Percaya atau tidak, kebiasaan selalu tidak pernah bersyukur atau menysukuri apa yang kita miliki atau kita dapat adalah sebuah kebiasaan buruk yang telah menjadi kebiasaan dari kita, sehingga kita sulit dalam mendapatkan kebahagian dalam hidup, karena selalu merasa tidak beruntung, walau sebenarnya kalau kita sadari kita telah memiliki banyak hal dalam hidup kita.
 
Ketika kita mendapat sesuatu mimpi atau keinginan, misalnya, sebagai manusia pasti kita akan tergoda atau tersirat dalam benak kita bahwa yang kita dapat terkadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, dan jauh didalam hati kita, kita berharap mendapat sesuatu yang lebih baik lagi.
 
Sebagai contoh lain, ketika ketika kita berharap pertama kita berharap mendapat mobil, tanpa embel-embel jenis mobil yang kita inginkan hanya sebuah mobil, tetapi sejalan dengan itu kita bisa mendapat mobil, yang kita dapat mungkin sejenis minibus, tetapi dalam hatikita, mungkin kita berharap mendapat mobil sedan. Hal seperti itulah yang bisa membuat kita berfikir seandainya saya mendapat mobil sedan pasti saya lebih bahagia. Lupakah kita akan keinginan awal kita, yang berharap hanya mendapat mobil, tetapi ketika kita mendapat apa yang kita inginkan, keinginan kita berkembang menginginkan yang lebih. Itulah sifat dasar manusia yang tidak pernah puas dan bahagia walau terkdang apa yang diinginkan telah terpenuhi.
 
Coba kemudian kita tanyakan pada diri kita secara terbuka, pasti kita pernah mengalami perasan seperti ini, karena hampir semua orang pernah mengalaminya. permasalahanya adalah ketika terjadi GAP/perbedaan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan, kita menjadi tidak puas atau bahkan bisa mengarah ke frustasi. Hal itu juga berlaku dalam hubungan kita dengan sesama juga dalam semua aspek kehidupan kita.
 
Kuncinya adalah dengan melihat atau menyadari tentang gap yang terjadi antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan. cobalah sedikit luangkan waktu untuk bertanya pada diri anda sendiri apa yang sebenarnya kita harapkan, dan tanyakan juga apakah kalau kita sudah memiliki yang kita inginkan kita akan puas, dan apa bedanya sesuatu yang kita miliki dengan apa yang kita inginkan, cobalah nikmati dan syukuri apa yang anda miliki saat ini, dan anda akan menemukan sesuatu yang membuat anda bahagia.
 
Karena itu, yakinlah apa yang kita miliki adalah sesuatu yang terbaik, dan coba lihat sekeliling anda, bahwa banyak orang yang sebenarnya masih mengejar apa yang anda miliki, dan banyak orang yang menginginkan apa yang anda miliki, jangan menjadi menyesal ketika apa yang kita miliki Keluarga, Pekerjaan, Atau Bisnis, Pendidikan, atau pun suatu benda yang telah anda miliki itu hilang, atau raip.
Jangan jadi orang yang gampang menyesal ketika kita kehilangan yang kita miliki, karena kita tidak pernah mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki, karena terlalu terbuai dengan apa yang anda inginkan.
 
"Syukuri, nikmati, dan Jaga apa yang anda dapat dan miliki saat ini, karena anda akan merasakan penyesalan ketika sesuatu yang kita miliki itu hilang ."
"Dengan bersyukur sesuatu yang kecil akan bernilai luar biasa" 

Selasa, 02 Oktober 2012

I K H L A S


Bismilallahir Rahmanir Rahiim
Allah Swt berfirman :
Al-Ikhlas itu adalah salah satu dari rahasia-rahasia-Ku,
yang telah Aku titipkan ke dalam hati
orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.

(Hadits Qudsi, Bihar al-Anwar 70 : 249)
 
Menurut bahasa, kata ikhlash berasal dari akar kata : khalasha – yakhlushu – khulushan – khalashan, yang artinya : murni, atau tidak bercampur (dengan unsur lainnya). Dari akar kata ini banyak makna lainnya di antaranya : bersih, jernih, khusus, menyendiri, yang dipilih, sampai, lepas, bebas, terhindar, selamat, memisahkan, habis, mencintai, tulus, membalas, selesai, inti, sari, jalan keluar, penolong, dan jujur. 16]
Keikhlasan adalah anugerah misterius yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berhati suci, dan selalu meningkatkan dan memperdalam iman serta penghambaannya.
 
Di dalam irfan atau tasawwuf, ikhlas memiliki istilah tersendiri. Khwajah Abdullah al-Anshari qs mengatakan, ”Arti ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari segala ketidakmurnian” Dan ketidakmurnian di sini adalah ketidakmurnian umum, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan makhluk lain.”

Ikhlash juga berarti : membebaskan perbuatan dari selain Tuhan yang berperan dalam perbuatan tersebut, atau suatu motivasi perbuatan yang tidak menginginkan balasan dunia mau pun akhirat. 19]
Penulis Gharaib al-Bayan menyebutkan bahwa : orang ikhlas itu adalah orang yang beribadah kepada Allah sedemikian rupa sehingga tidak memperhatikan kalau dirinya itu sedang beribadah, juga tidak memperhatikan dunia atau penghuninya, juga tidak melebihi batas-batas hamba dalam melihat Tuhan.
 
Syaikh al-Muhaqqiq Muhyiddin Ibn al-‘Arabi mengatakan, ”Bagi Allah-lah kesetiaan yang tulus, yang bersih dari semua noda dan egoisme. Dan kamu harus sepenuhnya sirna (fana) dalam Dia agar Dia tersambung dengan esensi, perbuatan dan agamamu. Selama kesetiaan belum disucikan secara hakiki, kesetiaan itu bukanlah untuk Allah.”
 
Ibadah orang-orang yang tulus merupakan jejak manifestasi (tajaliyyat) Sang Kekasih, dan yang senantiasa ada di hatinya hanyalah Zat Allah.
Imam Ali as mengatakan, “Beruntunglah orang yang telah memurnikan (akhlash) penghambaan dan do’anya hanya kepada Allah dan hatinya tidak disibukkan oleh apa-apa yang dilihat matanya, dan ia tidak lupa dari berzikir kepada Allah karena apa-apa yang didengar telinganya, dan hatinya tidak sedih karena karunia yang diberikan kepada selain dirinya.”
 
Rasulullah saw bersabda, “Semua orang yang berilmu itu (al-‘ulama) celaka kecuali yang beramal dan semua orang yang beramal itu celaka kecuali orang yang ikhlas dan orang ikhlas itu senantiasa dalam kekhawatiran.”
 
Manusia tidak pernah aman dari kejahatan setan dan egonya sampai akhir hayatnya. Dia tidak boleh membayangkan bahwa setelah ia berbuat ikhlas semata-mata demi Allah tanpa adanya keinginan untuk menyenangkan makhluk, kemurniann perbuatannya akan selalu aman dari kejahatan godaan setan, lintasan-lintasan ego dan hawa nafsu.
 
Jika ia tidak senantiasa waspada, niscaya suatu waktu ia akan tergelincir ke dalam bentuk riya atau ‘ujub yang sedemikian halus sehingga ia tidak menyadarinya. Sebentar saja manusia lalai, maka kendali egonya pun akan terlepas dan menyeretnya kepada perbuatan buruk dan tercela.
Sesungguhnya nafs (ego) manusia itu senantiasa mengajak kepada kejahatan, kecuali kalau Allah Swt mengasihi” (QS 12 : 53)
 
HAKIKAT IKHLAS
 
Rasulullah saw bersabda, ”Setiap kebenaran itu ada hakikatnya dan tidaklah seorang hamba dapat mencapai hakikat keikhlasan sampai ia merasa tidak suka dipuji atas amal (ibadah) yang ditujukannya kepada Allah.”
Imam Ali as berkata, ”Barangsiapa yang tidak bertentangan apa yang ada dalam hatinya dengan apa yang ia nyatakan, dan tidak bertentangan pula perbuatan dan perkataannya, maka sungguh ia telah menunaikan amanah dan telah memurnikan (akhlas) penghambaannya.”
 
Amal yang bernilai dalam pandangan Allah adalah amal yang dilakukan semata-mata untuk ‘menyenangkan’-Nya, betapa pun kecilnya amal itu. Amal sedikit yang dilakukan dengan ikhlas lebih disukai-Nya ketimbang banyak tetapi tidak ikhlas.
Rasulullah saw bersabda, ”Ikhlas-kanlah hatimu, niscaya mencukupimu walau dengan sedikit amal.”
 
Amal perbuatan merupakan gambaran yang tidak hidup, namun keikhlasan di dalamnya memberikan ruh kehidupan padanya.
Secara lahiriah, shalat Ali bin Abi Thalib as tidak berbeda dengan shalat orang-orang munafik. Namun secara batini, shalat Ali bin Abi Thalib memiliki nilai spiritual tertinggi yang mampu mengangkat ruhnya terbang ke langit, bermi’raj menghadap Tuhan.
 
Orang yang hatinya dibangkitkan oleh keikhlasan tidak peduli apakah orang lain akan mencela atau menyanjung amalnya atau tidak. Ia benar-benar tidak peduli bahkan apakah amal ibadahnya itu akan diberikan ganjaran atau tidak.
Perhatian orang yang ikhlas tidak pernah berubah, baik ia berada dalam keadaan susah mau pun senang. Hatinya hanya tertuju kepada Sang Kekasih, tidak kepada yang lain.
 
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan (mukhlishina) ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS 98 : 5)
 
Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah. Namun ibadah yang dicelup dengan warna ikhlas. Orang yang memberikan tempat kedua bagi Tuhan dalam hatinya sebenarnya ia tidak memberikan tempat sama sekali bagi Tuhan.
Jika amal dan keikhlasan kita umpamakan sebagai sepasang sayap, maka takkan mungkin kita dapat terbang tanpa sepasang sayap. Rumi mengatakan :
 
Engkau mesti ikhlas dalam beramal,
agar Tuhan Yang Maha Agung menerimanya.
ikhlash adalah sayap amal ibadah,
tanpa sayap, bagaimana engkau dapat
terbang ke tempat bahagia?

Jumat, 14 September 2012

LENYAPNYA DIRI DARI SEGALA NAFSU



Lenyapkan dirimu dari pandangan manusia, karena Allah, lenyapkan ke-aku-an karena Allah, hingga enkau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dan ke-aku-an ditandai dengan memutuskan sepenuhnya dari segala harapan pada mereka.
Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, kerana Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhir; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketak-bertujuan, ketak-butuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasif-lah organ-organ tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.
Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat – yang pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itulah kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dengan Tuhan.
 
Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, "
Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaligus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang bererti: berubah). Bagi peribadi-peribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Rabu, 05 September 2012

MENGENAL JATI DIRI


SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA, SESUNGGUHNYA DIA DAPAT MENGENAL TUHANNYA
 
Untuk dapat memahami Sabda Rasulullah tersebut diatas marilah kita terlebih dahulu mempelajari dan merenungkan ayat-ayat suci di bawah ini :
 
AL-MU’MINUN : 12-16
 
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
 
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
 
14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
 
15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
 
16. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.
NUH : 17
17. dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
 
YAA-SIIN: 77
77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
 
AL-HIJR:29
29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud
 
QAAF:16
16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
 
 
Apabila kita menyimak bunyi ayat-ayat Kitab suci tersebut di atas dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang terdiri dari :
  1. Badan Jasmani
  2. Badan Rohani ( Ruh)
Badan Jasmani manusia terdiri dari 4 macam unsur yaitu :
  1. Udara
  2. Api
  3. Air
  4. Tanah
 
Badan Jasmani manusia dianugerahi Tuhan dengan pancaindera yaitu :
  1. penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Pengucap
  4. Pencium
  5. Perasa
 
Disamping pancaindera, badan jasmani manusia memiliki 4 macam nafsu yaitu :
  1. LAUWAMAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur TANAH berada pada daging manusia
SIFAT LAUWAMAH :
-  Jahil
-  Serakah
-  Malas dan sebagainya
  1. AMARAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur API berada pad adarah, yang merata di seluruh tubuh manusia.
SIFAT AMARAH:
-  Mudah marah
-  Beringas
-  Mudah gugup dan sebagainya
  1. SUFIAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur AIR sebagian besar terdapat pada tulang sungsum, sedang bagian halusnya menjadikehendak.
SIFAT SUFIAH :
-  Keinginan
-  Asmara dan sebagainya
  1. MUTMAINAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur UDARA, terdapat pada nafas manusia
SIFAT MUTMAINAH
- Tenang
-  Suci
-  Bakti
-  Belas kasih dan sebagainya
 
AL-ISRAA : 85
85. dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
 
ROH adalah unsur ILLAHI bukan terdiri dari benda (materi) yaitu sumber CAHAYA atau sumber HIDUP yang menyebabkan manusia hidup. Apabila ROH keluar dari tubuh kita maka kita akan mati. Namun ROH manusia yang mati akan tetap hidup dan akan kembali ke asalnya. INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN
 
Unsur ROH inilah yang menyebabkan manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, ber-kesadaran, dan ber-pengertian.
 
Mengingat ROH adalah unsur ILLAHI, maka hanya TUHAN sajalah yang dapat menyatakan rahasianya.