Sabtu, 19 November 2011

PENGERTIAN KHUSYU’


Pada tulisan ini, kami menulis betapa pentinganya khusyu’.

Nah apakah pengertian khusyu’ itu ?  

Pada tulisan ini telah diterangkan bahwa sholat ialah persambungan antara manusia dengan Alloh Ta’ala. Dan jalan untuk bisa sambung (shilla) kepada Alloh Ta’ala adalah melalui taqwa. Oleh karena TAQWA itu itu menurut Nabi Muhammad “disini” (   ههنا   ) sambil menunjuk ke arah hati, maka kiblatnya ruhani adalah ke hati atau “ke dalam” (bukan keluar). Karena yang kita sembah itu memang lebih dekat dari pada urat leher.  

WANAHNU AQROBU ILAIHI MIN HABLIL WARIID (Qof / 16).
“Dan kami (Alloh) lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya sendiri”.

WAIDZAA SA-ALAKA ‘IBAADII ‘ANNII   FA INNII QORIIB (Al-Baqoroh / 186).
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentangKu, maka sesungguhnya Aku itu dekat”.

Menurut 2 ayat diatas, yang kita sembah, yang kita sujudi, yang disebut Alloh adalah lebih dekat dari pada urat leher. Oleh karena yang kita sembah itu lebih dekat dari pada otot leher kita, maka semestinya akal fikir, perasaan semuanya dipusatkan masuk kedalam atau ke hati, bukan ngeluyur keluar. Seandainya sampai ngeluyursupaya cepat-cepat ditarik kembali kedalam.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAL TAFATA ‘ABDUN QOTTHU FII SHOLAATIHI ILLAA QOOLA LAHU ROBBUHU AINA TALTAFITU YAA ABNA AADAMA ANAA KHOIRUN LAKA MIMMAA TALTAFITU ILAIHI.
Bersabda Rosululloh SAW : ”Tidak berpaling sama sekali seorang hamba di dalam sholatnya kecuali Alloh berfirman : “Kamu itu berpaling kemana (hatimu itu tengok kemana?). Hai Ibnu Adam, Aku itu lebih baik bagimu dari pada barang yang kamu tengok”.

Menurut hadits diatas, Alloh menegur kepada orang yang di dalam sholatnya suka lupa kepada Alloh dengan kalimat : Aku (Alloh) itu lebih Mulya, Aku itu lebih luhur, tapi kenapa kamu berpaling kepada selainKu?.

Ada yang begitu mulai sholat “Allohu Akbar”, fikirannya langsung ingat toko : “Lho aku tadi kan belum menutup pintu toko” dst. Maka Alloh berfirman : “Aku itu lebih Mulya dari pintunya tokomu, tapi mengapa kamu berpaling kepada pintunya toko?. Apakah ada yang lebih Mulya selain Aku, sehingga kamu menoleh kepada yang lain?.

Kemudian hadits yang lain menyebutkan :
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAN QOOMA FIS SHOLAATI FALTAFATA RODDALLOHU ‘ALAIHI SHOLAATUHU (‘An Abii Dardaa’) Rowaahut Thobrooni.
Bersabda Rosululloh SAW : “Barang siapa yang berdiri di dalam sholat tapi hatinya menoleh / berpaling pada yang lain, maka Alloh menolat sholatnya

Jadi orang yang hatinya berpaling dari Alloh ketika sholat, maka Alloh menolak sholatnya. Karena itu kita harus berusaha sungguh-sungguh menurut kemampuan, bila konsentrasinya buyar maka cepat-cepat ‘dikembalikan’. Tapi kalua menurut ahli feqih ; ingat pada Alloh itu hanya cukup diwaktu takbirotul ihrom saja, setelah itu boleh tidak ingat.

Oleh karena sholat yang tidak khusyu’ itu bahayanya besar, yaitu tertolak sholatnya, maka kanjeng Nabi sampai berdoa :

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’ WAQOLBIN LAA YAKHSYA’.
“Yaa Alloh, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan hati yang tidak khusyu’”.

Kalau Nabi berdoa kapada Alloh, minta dijaga dari hati yang tidak khusyu’ berarti menunjukkan sangat bahayanya ketidak khusyu’an itu. Dan diantara cara agar bisa khusyu’ adalah dengan mengetahui kiblatnya sholat, kemudian dengan adanya kalimat :
QOLBIN LAA YAKHSYA’
Adalah menunjukkan kalau khusyu’ itu adanya di dalam QOLBUN (hati). Dan khusyu’ itu juga menjadi pokok keberuntungannya sholat, sebagaimana diterangkan dalam Alqur'an :
QOD AFLAHAL MU’MINUUN. ALLADZIINA FII SHOLAATIHIM KHOOSYI ‘UUN (Al-Mu’minun / 1-2).
“Sesungguhnya beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam sholatnya khusyu’”.

Di dalam ayat ini, yang disebut aflahal beruntung adalah orang yang khoosyi’uun / khusyu’. Jadi letak keberuntungannya pada khusyu’ atau tidaknya. Lalu apakah yang disebut dengan khusyu’ itu?.

Menurut Al-Qur’an “Khusyu’” adalah :
MULAAQUU ROBBIHIM WA ANNAHUM ILAIHI ROOJI’UN (Al-Baqoroh / 46).
“Bertemu Alloh dan kembali kepada Alloh”.

Bunyi lengkapnya ayat :
WASTA ‘IINUU BISSHOBRI WASSHOLAATI WA INNAHAA LAKABIIROTUN ILLAA ‘ALAL KHOOSYI’IIN. ALLADZIINA YA-DHUNNUUNA ANNAHUMM MULAAQUU ROBBIHIM WA ANNAHUM ILAIHI ROOJI’UUN.

“Dan mintalah pertolongan dengan shobar dan sholat, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang yaqin, sesungguhnya mereka itu bertemu dengan Tuhannya dan sesungguhnya mereka itu kembali kepadaNya”.           

Jadi khusyu’ itu adalah bertemu dengan Alloh dan kembali pada Alloh. Dengan demikian untuk bertemu dan kembali kepada Alloh itu tidak perlu menunggu besok diakherat, sekarang juga bisa, yaitu bila khusyu’ maka sekarang juga bertemu dengan Alloh dan kembali kepada Alloh. Selanjutnya pada saat wafat “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”, tidak perlu menunggu lama-lama langsung bisa liqoo ‘illah.

            Dan mereka itulah orang yang mendapat berkat, rohmat dan petunjuk dari Alloh :

INNAA LILLAAHI WAINNAA ILAIHI ROOJI’UUN. ULAAIKA ‘ALAIHIM SHOLAWAATU MIN ROBBIHIM WAROHMATUN WA-ULAA-IKA HUMUL MUHTADUUN (Al-Baqoroh / 156-157).

“Sesungguhnya aku dari Alloh dan sesungguhnya aku kembali kepada Alloh. Mereka itulah yang mendapat berkat yang sempurna dan rohmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

 Jadi khusyu’ itu adalah liqo’ (bertemu), dan liqo’nya itu di dalm hati, sebab yang disembah itu lebih dekat dari hatinya sendiri.

Selasa, 11 Oktober 2011

BENTENG TAQWA


PERSOALAN TAQWA.

Dalam Alqur-an telah diterangkan bahwa manusia itu asalnya diciptakan dari tanah.
WALLOOHU KHOLAQOKUM MIN TUROOBIN.
Artinya : "Dan Alloh menciptakan kamu semua dari tanah ".

Meskipun manusia itu bahan penciptaannya dari tanah (jadi sama dengan bahannya cowek/cobek) tapi oleh Alloh Ta'ala manusia itu jadikan makhluk yang pa-ling mulya. Sehingga derajatnya manusia itu bisa lebih mulya dari tanah, lebih mulya dari tumbuh-tumbuhan, lebih mulya dari hayawan, lebih mulya dari jin, lebih mulya dari syaithon, bahkan lebih mulya dari Malaikat. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an :  
WALAQOD KARROMNAA BANII AADAM.
Artinya : "Dan sungguh-sungguh kami mulyakan Bani Adam".
Akan tetapi (jadi ada tapinya) kemulyaan manusia yang melebihi semua makhluk itu ada yang tetap tersandang, ada yang tidak tetap, ada yang tambah meningkat, ada pula yang jatuh. Adapun yang jatuh itu :
Ada yang jatuh sampai ketingkat benda (jadi kembali ke tingkat bahannya), sebagaimana yang tersebut dalam Alqur-an :
KAL HIJAAROTI AU ASYADDU QOSWAH.
" Laksana batu bahkan lebih keras lagi ".
Ada yang jatuh ketingkat laba-laba.
KAMATSALIL 'ANGKABUT.
" Seperti laba-laba (kemlandingan) "

Ada yang jatuh ketingkat ternak.
ULAA-IKA KAL AN-'AAM.
" Mereka itu seperti hayawan ternak ".
Jadi bentuknya tetap bentuk manusia tapi martabatnya sudah jatuh ketingkat hayawan ternak, seperti kambing, sapi, kerbau dan seterusnya.

Ada yang jatuh ketingkat kera.
KUU-NUU QIRODATAN KHOOSYI-IIN
" Mereka itu seperti kera yang hina ".

Ada yang jatuh ketingkat babi.
WAL KHONAAZIIRI.
" Menjadi babi ".

Ada yang jatuh ketingkat anjing.
FAMATSALUHU KAMATSALIL KALBI.
Maka perumpamaannya itu seperti anjing.

Ada yang jatuh ketingkat syaithon.
SYAYAATHIINAL INSI WAL JINNI.
Syaithon berbentuk manusia dan berbentuk jin.

Jadi meskipun manusia itu asalnya mulya tapi bisa juga jatuh ketingkat yang rendah atau hina. Dan supaya manusia tidak jatuh ketingkat yang rendah maka Alloh Ta'ala membuat aturan. Jadi adanya aturan-aturan itu adalah untuk melindungi atau menjaga martabat manusia yang sangat tinggi itu agar tidak jatuh ketingkat yang rendah. Dan penjagaan atau perlindungan itu bahasa Arabnya adalah Taqwa. Makanya dalam Alqur-an diterangkan :
INNA AKROMAKUM 'INDALLOOHI ATQOOKUM.
Artinya : "Sesungguhnya semulya-mulya diantara kamu bagi Alloh adalah yang paling taqwa diantara kamu". (Al hujurot ayat 11)

Adapun TAQWA itu asalnya adalah dari kata WAQWA . WAQOO – YAQII – WIQOOYATAN.
Kemudian WAWU nya pada kalimat WAQWA dibuang, diganti dengan TA', jadilah kalimat TAQWA. Dan WAQWA atau TAQWA itu artinya penjagaan atau perlindungan atau pembentengan. Jadi TAQWA itu adalah penjagaan atau perlindungan atau pembentengan martabat manusia (kedudukan manusia / kemulyaan manusia).

Adapun benteng TAQWA itu berlapis lapis (ada 4 lapis), yaitu :
·         Benteng lapis pertama berupa perintah-perintah Alloh yang bersifat dhohir.
·         Benteng lapis kedua berupa larangan-larangan Alloh yang bersifat dhohir.
·         Benteng lapis ketiga berupa perintah-perintah Alloh yang bersifat bathin.
    Seperti perintah shobar, perintah tawakkal, perintah dermawan, perintah ikhlas dan seterusnya.
·         Benteng lapis ke empat berupa larangan-larangan Alloh yang bersifat bathin.
    Seperti larangan takabbur (sombong), larangan riya' (ingin dipuji), larangan nifak, larangan syirik dan lain sebagainya.
Dan kalau diri kita sudah bisa terbentengi dengan 4 lapis tembok taqwa itu, insya Alloh martabat kita akan tetap

Jumat, 23 September 2011

DAHULUKAN SALAM


Kebiasaannya yang sudah berlaku yang ada dikitab-kitab dan dipengajian-pengajian yang sudah umum, sebelum pengajian dan di kitab-kitab tersebut, sebelum membahas persoalan-persoalan pokoknya, maka disitu didahului :
1. Membaca salam, biasanya : “Assalamu-’Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh”.
2. Setelah itu membaca : “Bismillahirroh-manirrohim”.
3. Lalu dilanjutkan membaca Hamdalah : “Alhamdulillahirobil’alamin”.
4. Lalu dilanjutkan membaca sholawat : “Washsholaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrofil Mursalin Wa’alaa Aalihi wa Ashhaabihi Ajma’in”
Baru setelah itu “Ammaa Ba’du”.

Ada juga yang singkat saja, setelah salam langsung : “Bismillah – Alhamdulillah – Washsholaatu Wassalaamu ‘Alaa Rosuulillah wa ‘Alaa Aalihi wa Ashhaabihi Waman Waalah”, ada juga yang ditambah “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah”. 
Ada yang tidak begitu, tapi bicara dahulu yang lama, kemudian baru salam, jadi setelah kepada…, kepada… kepada…, baru “Assalamu ‘Alaikum”. 

Dan disini kami menyampaikan : Salam, lalu Basmallah, lalu Hamdallah, lalu Sholawat Salam, jadi dirangkaikan satu, dua, tiga.

Mengapakah yang didahulukan itu kok Salam, manakah dalilnya kalau Salam itu didahulukan?

Dalilnya itu banyak, diantaranya diterangkan : 
QOOLA ROSUULULLOH SAW : ASSALAAMU QOBLAL KALAAM. (‘An Jaabir) – Rowahu Imam Ibnu Najjar.
Artinya : “Bersabda Rosululloh SAW : Mengucap salam itu lebih dahulu sebelum bicara”.

Hadits lain menerangkan : 
ASSALAAMU QOBLASSU-AAL FAMAN BADA-AKUM BISSU-AALI QOBLASSALAAM FALAA TUJIIBUHU.
Artinya : “Salam itu lebih dahulu sebelum bertanya, siapa orangnya yang mengawali dari kamu semua dengan pertanyaan sebelum mengucap salam, maka janganlah dijawab pertanyaannya”.

Jadi sebelum bertanya, sebelum berkomunikasi, muqoddimahnya itu harus salam: “Assalaam Qoblal Kalam” : Salam dahulu sebelum komunikasi.

Jadi salam itu  adalah muqoddimahnya komunikasi, kalam itu komunikasi, hubungan. Omongan itu hubungan antara sesama manusia, kecuali bicaranya orang mengigau (waktu tidur berbicara). 

Lalu dari segi hukum, mengucap salam itu hukumnya Tathowwu’. Tathowwu` itu sunat. Sedangkan menjawab salam itu hukumnya fardlu: wajib.
QOOLA ROSUULULLOH SAW : ASSALAAMU TATHOWWU`UN WARRODDU FARIIDLOTUN. 
(Al-Hadits)
Artinya : “Bersabda Rosululloh SAW : Salam itu sunat dan menjawab salam itu fardlu”.

“Sunnat”, “Tathowwu’”, “Naflah” itu sama maknanya. Jadi kalau anda mengucap salam, maka menjawabnya itu fardlu, mengucapkan / memberikan salam itu sunat, membalas salam itu wajib.

Minggu, 24 Juli 2011

HATI

Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan cerminan dari HATI-nya. Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal Hati kita sendiri.
Hati itu terdapat 2 jenis :
1. Hati Jasmaniyah
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya.
2. Hati Ruhaniyyah
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati jenis 2, hati Ruhaniyyah.
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :
"... Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu ..." (QS. 49:7)
"...karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, ...". (QS. 49:14)
"...Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka ..." (QS. 58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
"...Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin".
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.
Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.
Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, "bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly ) banyak yang tidak mengerti hal ini". Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?
Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur'an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).


Selasa, 19 Juli 2011

KEYAQINAN

Penting untuk dimengerti bahwa gerak hidup manusia itu ditentukan oleh gerak jiwanya. Dan arah gerak hidup manusia itu ditentukan oleh "Keyakinan" yang menjiwai jiwa manusia itu sendiri.

Jika keyakinan yang menjiwai jiwa manusia itu keyakinan Filsafat Materialisme, maka pastilah aktifitas hidup manusia itu menuju kepada materi semata, sehingga timbullah Kaidah Falsafah Materialis yang bunyinya :
" aku adalah materi, materi adalah aku. aku dari materi dan aku kembali kepada materi. aku dan materi adalah identik. Materi adalah segala-galanya, di luar materi tak ada apa-apa."
Keyaqinan semacam ini sebagaimana diterangkan dalam Al Qur-an :

WAQOOLUU MAAHIYA ILLAA HAYAATUNAD DUN-YA NAWUUTU WANAHYAA WAMAA YUHLIKUNAA ILLADDAHRU WAMAALAHUM BIDZAALIKA MIN 'ILMIN INHUM ILLAA YADHUNNUUN. (Q.S. Al Jaastiyah / Ayat 24)
Artinya   : "Dan mereka berkata : kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja bukan mati bukan hidup dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali materi. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja".

Dan jika jiwa manusia itu dijiwai oleh keyakinan kalimat taqwa "Laa Ilaaha Illalloh", maka pastilah segala gerak aktifitas hidup manusia itu bergerak menuju "Laa Ilaaha Illalloh". Kita dari "Laa Ilaaha Illalloh" beserta"Laa Ilaaha Illalloh" kembali kepada "Laa Ilaaha Illalloh", lenyap didalam gulungan gelombang Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Dzat "Laa Ilaaha Illalloh". sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :
YUNAZZILUL MALAA-IKATA BIRRUUHI MIN AMRIHI 'ALAA MAN-YASYAA-U MIN 'IBAADI-HI AN-ANDZIRUU ANNAHU LAA ILAAHA ILLAA ANAA FATTAQUUN. (An Nahl / Ayat 2)
Artinya :   "Dia (Alloh ) menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu laa ilaaha illalloh ) dari perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada tuhan melainkan aku. Maka hendaklah kamu taqwa kepada-Ku".

Didalam ayat ini ada kalimat " BIRRUUHI " (RUH), yang dimaksud ialah ruh wahyu "Laa Ilaaha Illa Anaa Fattaquuni". Oleh sebab itu yakinilah bahwa "Laa Ilaaha Illalloh" itu adalah ruh yang apabila menjadi "RUUHURRUH",  maka Iman Fithroh kita akan hidup segar, fikiran menjadi segar, akal menjadi segar, rasa batin kita menjadi segar pula. Itulah yang diserukan dalam Al Qur-an :
yaa ayyuhalladziina aamanustajii-buu lillahi walirrosuuli idzaada'aa-kum limaa yuhyiikum. (Q.S. Al Anfal/ Ayat 24)
Artinya :"Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila rosul menyeru kepada kamu, kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu ".

Adapun THORIQOH itu adalah suatu metode yang mendalam untuk memasukkan Ruh Laa Ilaaha Illalloh kepada Ruh Manusia agar ruh manusia itu benar-benar menjadi ruh yang hidup bermakna, bukan sekedar Ruh hidup yang berlafdzi.