Rabu, 08 Februari 2012

MENGECUP HAJAR ASWAD


QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : INNA LIKULLI SYAI-IN SAQOOLATAN WA INNA SAQOOLATAL QULUUBI DZIKRULLOHI, WAMAA MIN SYAI-IN ANJAA MIN ‘ADZAABILLAHI MIN DZIKRILLAHI, WALAU AN TADL-RUBA BISAIFIKA HATTAA YAN-QOTI’U (‘An Ibni Umar) Rowahul Baihaqi fi sya’bil iman. (Jami’ush shoghir / I / Alif / 166).
Bersabda Rosulullohi s.a.w : Sesungguhnya bagi segala sesuatu itu ada penggosoknya. Dan sesungguhnya penggosoknya hati itu ialah dzikrulloh. Dan tidak ada dari sesuatu yang paling bisa menyelamatkan dari siksa Alloh (selain) dari dzikrulloh. Dan meskipun seandainya lehermu dipotong dari pandangmu sendiri.

Hati manusia itu bisa di ibaratkan seperti kaca cermin. Dan setiap kali manusia melakukan dosa, maka sama dengan menggoreskan satu titik hitam (NUKTHOTUN SAUDA-UN) ke cermin hati. Bila melakukan dua kali dosa berarti menggoreskan dua titik hitam, bila tiga kali dosa, berarti tiga titik hitam, demikian seterusnya. Jadi dosa-dosa itu bisa merubah hati manusia tapi tidak merubah jasmani manusia. Meskipun manusia itu dosanya banyak, tetap tidak akan merubah jasmaninya, jika tampan ya tetap tampan. Adapun yang berubah itu adalah hatinya, bila semakin banyak berdosa maka hatinya akan semakin hitam akhirnya gelap.
           
Jadi hati manusia itu asalnya putih, tapi oleh karena terkena dosa dari mata, dari telinga, dari lisan, dari tangan dan kaki dst akhirnya mengumpul titik-titik hitam di cermin hati, sehingga hati menjadi hitam dan gelap. Lalu bila hatinya juga keras seperti batu, karena dalam Alqur-an ada ayat yang menerangkan :
FAHIYA KAL HIJAAROTI AU ASYADDU QOSWAH
“Maka dia (hatinya) seperti batu atau lebih keras (dari batu)”.
Maka hatinya jadilah batu hitam.
Batu bahasa Arabnya HAJAR.
Hitam bahasa Arabnya ASWAD.
Bila digabung jadilah HAJAR ASWAD.
           
Kemudian disuruh mengecupnya supaya putih lagi. Tapi umumnya yang dikecup oleh orang-orang itu hanya HAJAR ASWAD yang di Timur Tengah saja, sedangkan hatinya sendiri (HAJAR ASWADnya) sendiri tidak pernah dikecup. Seharusnya HAJAR ASWAD nya sendiri itu dikecup dengan SAQOOLATAL QULUB (dengan pembersih hati) yakni DZIKRULLOH (ingat kepada Alloh) supaya bersih, bukan tetangganya yang disuruh ngecup. Dan bila hati (hajar aswadnya) tidak dikecup sendiri (dibersihkan dengan dzikir) maka akan hitam terus.
           
Adapun Hajar aswad itu sendiri dahulunya adalah HAJAR ABYAD (batu putih) dan berasal dari surga, turun bersama dengan Adam. Jadi asalnya Hajar abyad itu di surga, begitu juga dengan Adam, tapi iblispun juga disana.
           
Lalu kenapa batu yang asalnya putih (HAJAR ABYAD) berubah menjadi batu hitam (HAJAR ASWAD)? Sebabnya berubah jadi hitam karena terkena dosanya orang-orang musyrik atau karena dikecupi oleh orang-orang musyrik. Seandainya tidak dikecupi oleh orang-orang musyrik maka tidak akan menjadi hitam.
            Oleh karena sekarang ini batunya sudah hitam maka yang dikecupi oleh orang-orang itu ya hitamnya. Katanya sangat bangga sekali bisa mengecupnya. Tapi sekarang oleh pemerintah sana sudah tidak boleh mengecup hajar aswad, sudah dilarang.
           
Adapun letaknya HAJAR ASWAD itu menempel di Baitulloh. Bait = rumah. Alloh itu namanya Dzat yang Maha Kuasa. Jadi hajar aswad itu menempel dirumahnya gusti Alloh.

Apa Alloh punya rumah ?
Punya, manusia saja punya rumah apalagi Alloh

Senin, 23 Januari 2012

TANDA BUKTI ADANYA ALLOH TA’ALA


Alloh berfirman:
INNI A’LAMU GHOIBASSAMAAWAATI WAL ARDHI ….(Al Baqoroh Ayat 33)
Artinya :“Sesungguhnya Saya (Alloh) itu lebih mengetahui akan ghoib-ghoibnya langit dan bumi.”

Jadi masalah ghoib di sini disebutkan Ghoibassamaawaati Wal Ardhi. Alloh Ta’ala berfirman dalam surat At Taubat ayat 94 :
 ‘AALIMUL GHOIBI WASY SYAHAADATI….
Artinya :“Alloh itu Dzat yang Maha Mengetahui di alam ghoib dan alam syahadah.”

Jadi baikpun alam ghoib ataupun alam syahadah, kedua-duanya diketahui oleh Alloh Ta’ala. Dan Alloh Ta’ala-lah yang menguasai seluruh alam, sebagaimana diterangkan dalam surat Al Fatihah :
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN
Artinya : “Segala puji bagi Alloh yang maha mengatur seluruh Alam.”
Dan yang dimaksud alam itu adalah segala sesuatu selain Alloh.
Ini tersebut dalam kitab tafsir Mafatihul Ghoib:
KULLU MAA SIWALLOHU FAHUWAL ‘AALAM
Artinya : “ Segala sesuatu lainnya Alloh disebut alam.”
Jadi apa saja selain Alloh itu disebut alam, apakah itu alam dunia, alam akhirat, alam syahadah, alam goib, alam benda, alam tumbuh-tumbuhan, alam hayawan, alam manusia, alam jin, alam syaithon, alam malaikat, alam barzakh, alam kubur dan lain sebagainya, kesemuanya itu disebut alam. Kalimat “alam” itu sendiri diambil dari kalimat “alamat.
AL ‘ALAMA’KHUUDZUN MINAL ‘ALAMAT
Artinya : “Kalimat alam itu diambil dari kalimat alamat.”

Alamat itu artinya tanda bukti. Oleh karena segala alam lainnya Alloh disebut alam, dan alam itu diambil dari kalimat alamat, maka segala sesuatu selain Alloh adalah sebagai tanda bukti atau menjadi alamat saja akan adanya Alloh Ta’la.

Jadi segala alam ini semua hanyalah tafsir bagi adanya Alloh Ta’ala. Jadi alam tumbuhan, alam benda, alam manusia dan lain sebagainya, semua itu hanyalah alamat bagi kita akan adanya Alloh Ta’ala.

Kamis, 22 Desember 2011

STRUKTUR DIRI MANUSIA


Sesungguhnya kita manusia itu sejatinya dalam satu diri yang kasat mata ini, juga Allah ‘letakkan’ diri yang lain yang tak-kasat mata. Ia adalah yang kita sebut “diri batin”. Sedang yang kasat mata ini disebut “diri lahir” kita.

Diri batin Allah ciptakan dengan bahan dasarnya dari cahaya-Nya, sedangkan diri lahir Dia ciptakan dari bahan dasar material dasar penyusun bumi, yaitu air, udara, tanah dan api. Kedua diri tersebut masing-masing juga memiliki kesadaran serta kelengkapan ‘indera’.

Allah menciptakan yang sejatinya manusia itu adalah diri batinnya, sebab ‘kesadaran’ diri batin meliputi kehidupan saat di Alam ‘Alastu’ seperti yang Allah nyatakan dalam (QS.Al-A’raaf[7]:172),

kemudian alam rahim ketika diri lahir kita dalam fase pertumbuhan dari zygot hingga bayi.

Kemudian ketika diri lahir mengalami kehidupan alam dunia ini diri batin pun menyertainya.

Ketika nanti diri lahir kita ajal dan dikembalikan ke bumi,

diri batin kita melanjutkan kehidupan di alam kubur/barzakh. Setelah itu kehidupan di Padang Mahsyar, lalu kehidupan Akhirat.”
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
(QS. Al-A’raaf[7]:172)

Kesadaran kedua diri tersebut berbeda. Itu dikarenakan ada 2 ciptaan/makhluk yang memang berbeda., Contoh yang mudah untuk merasakan kesadaran kedua ‘diri’ tersebut adalah ketika kita mengalami peristiwa nglindur saat tidur. Saat kita nglindur, kesadaran kita mengalami 2 kesadaran pada saat yang sama. Satu kesadaran mengerti bahwa kita sedang berada di tempat kita tidur, dan kesadaranlainnya lagi merasa kita di skenario mimpi.

Contoh yang lain lagi adalah pada orang-orang shiddiqqin atau yang tingkat diri batinnya sama atau lebih tinggi dari ‘shiddiqqin’. Pada tingkat diri batin seperti mereka, kesadaran lahirnya mampu -seizin Allah- melakukan dialog/komunikasi dengan diri batinnya. Kedua diri tersebut bisa berkomunikasi.

Apakah maksud Allah menciptakan manusia dengan struktur seperti itu?

Dari riwayat yang mashur di kalangan ulama Tashawuf dikatakan bahwa Allah itu menciptakan kita (manusia) agar Dia kita kenali. Nah, agar pengenalan kita mencapai intensitas yang tertinggi maka Allah buat struktur-diri kita seolah-olah mirip Dia yang juga memiliki ‘aspek batin dan lahir/dhohir’

Aspek batin Allah lebih kompleks daripada aspek lahirnya, maka demikian pula diri batin kita Allah ciptakan juga lebih kompleks dibandingkan dengan diri lahir kita..

Sudah seharusnya kesadaran maupun tindakan keduanya itu bersatu dalam mengabdi kepada Allah. Proses perjuangan menyatukan kedua diri ini yang disinyalir oleh Rasulullah saw sebagai “Jihad Akbar” (Perjuangan Yang Besar).

Dalam hidup kita yang sebentar di dunia ini, seharusnya Perjuangan Yang Besar inilah yang kita prioritaskan paling utama, karena kalau kita Allah izinkan memenangkan perjuangan tersebut, Insya Allah status Haqqatu Qattihi (taqwa yang sejatinya taqwa) Allah sematkan kepada kita. Dan kalau kita menjadi hamba-Nya yang taqwa sejati, maka di mata Allah kita adalah orang mulia.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Minggu, 20 November 2011

SHOLAT MENJADIKAN SESEORANG MENJADI MANUSIA


Di puncak pengharapan...
 setelah berjuang menempuh berbagai jalan untuk "menjadi"
 akhirnya orang-orang puncak hanya berharap
 : menjadi MANUSIA

 Barang siapa mengenal dirinya
 maka ia akan tahu betapa ajiibnya menjadi manusia
 tak ada kebahagiaan melebihi ini
 tetapi sudahkah kita mengetahui dan bersyukur ?

 Mengapa Rosulullah selalu mengucap "Alhamdulillah..."
 setiap kali bangun tidur
 hanya karena mendapatkan hidup sebagai manusia
 bukan karena mendapatkan yang lain

 Seringkali kita berkorban terlalu besar untuk menjadi bahagia
 yang pada akhirnya tidak ditemukan juga
 kesibukan yang terobsesi oleh ambisi
 hanya akan menjauhkan manusia dari dirinya sendiri yang sangat berharga

 Untuk itu Tuhan memerintahkan manusia menegakkan sholat
 agar manusia membersihkan dirinya dari segala godaan pikiran yang mngacaukan
 untuk kembali kepada dirinya yang bahagia dihadapan Tuhan
 dengan merasakan tubuhnya yang bergetar nikmat dalam pelukan rahmat

 Di atas sajadah, kita bukan apa-apa
 di atas sajadah, kita bukan siapa-siapa
 di atas sajadah, kita hanyalah manusia

 Melalui MANAJEMEN BAWAH SADAR, kita belajar
 menggali potensi diri di bawah sadar
 untuk mencapai nikmatnya menjadi MANUSIA
 baik dalam bekerja maupun beribadah

Sabtu, 19 November 2011

PENGERTIAN KHUSYU’


Pada tulisan ini, kami menulis betapa pentinganya khusyu’.

Nah apakah pengertian khusyu’ itu ?  

Pada tulisan ini telah diterangkan bahwa sholat ialah persambungan antara manusia dengan Alloh Ta’ala. Dan jalan untuk bisa sambung (shilla) kepada Alloh Ta’ala adalah melalui taqwa. Oleh karena TAQWA itu itu menurut Nabi Muhammad “disini” (   ههنا   ) sambil menunjuk ke arah hati, maka kiblatnya ruhani adalah ke hati atau “ke dalam” (bukan keluar). Karena yang kita sembah itu memang lebih dekat dari pada urat leher.  

WANAHNU AQROBU ILAIHI MIN HABLIL WARIID (Qof / 16).
“Dan kami (Alloh) lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya sendiri”.

WAIDZAA SA-ALAKA ‘IBAADII ‘ANNII   FA INNII QORIIB (Al-Baqoroh / 186).
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentangKu, maka sesungguhnya Aku itu dekat”.

Menurut 2 ayat diatas, yang kita sembah, yang kita sujudi, yang disebut Alloh adalah lebih dekat dari pada urat leher. Oleh karena yang kita sembah itu lebih dekat dari pada otot leher kita, maka semestinya akal fikir, perasaan semuanya dipusatkan masuk kedalam atau ke hati, bukan ngeluyur keluar. Seandainya sampai ngeluyursupaya cepat-cepat ditarik kembali kedalam.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAL TAFATA ‘ABDUN QOTTHU FII SHOLAATIHI ILLAA QOOLA LAHU ROBBUHU AINA TALTAFITU YAA ABNA AADAMA ANAA KHOIRUN LAKA MIMMAA TALTAFITU ILAIHI.
Bersabda Rosululloh SAW : ”Tidak berpaling sama sekali seorang hamba di dalam sholatnya kecuali Alloh berfirman : “Kamu itu berpaling kemana (hatimu itu tengok kemana?). Hai Ibnu Adam, Aku itu lebih baik bagimu dari pada barang yang kamu tengok”.

Menurut hadits diatas, Alloh menegur kepada orang yang di dalam sholatnya suka lupa kepada Alloh dengan kalimat : Aku (Alloh) itu lebih Mulya, Aku itu lebih luhur, tapi kenapa kamu berpaling kepada selainKu?.

Ada yang begitu mulai sholat “Allohu Akbar”, fikirannya langsung ingat toko : “Lho aku tadi kan belum menutup pintu toko” dst. Maka Alloh berfirman : “Aku itu lebih Mulya dari pintunya tokomu, tapi mengapa kamu berpaling kepada pintunya toko?. Apakah ada yang lebih Mulya selain Aku, sehingga kamu menoleh kepada yang lain?.

Kemudian hadits yang lain menyebutkan :
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAN QOOMA FIS SHOLAATI FALTAFATA RODDALLOHU ‘ALAIHI SHOLAATUHU (‘An Abii Dardaa’) Rowaahut Thobrooni.
Bersabda Rosululloh SAW : “Barang siapa yang berdiri di dalam sholat tapi hatinya menoleh / berpaling pada yang lain, maka Alloh menolat sholatnya

Jadi orang yang hatinya berpaling dari Alloh ketika sholat, maka Alloh menolak sholatnya. Karena itu kita harus berusaha sungguh-sungguh menurut kemampuan, bila konsentrasinya buyar maka cepat-cepat ‘dikembalikan’. Tapi kalua menurut ahli feqih ; ingat pada Alloh itu hanya cukup diwaktu takbirotul ihrom saja, setelah itu boleh tidak ingat.

Oleh karena sholat yang tidak khusyu’ itu bahayanya besar, yaitu tertolak sholatnya, maka kanjeng Nabi sampai berdoa :

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’ WAQOLBIN LAA YAKHSYA’.
“Yaa Alloh, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan hati yang tidak khusyu’”.

Kalau Nabi berdoa kapada Alloh, minta dijaga dari hati yang tidak khusyu’ berarti menunjukkan sangat bahayanya ketidak khusyu’an itu. Dan diantara cara agar bisa khusyu’ adalah dengan mengetahui kiblatnya sholat, kemudian dengan adanya kalimat :
QOLBIN LAA YAKHSYA’
Adalah menunjukkan kalau khusyu’ itu adanya di dalam QOLBUN (hati). Dan khusyu’ itu juga menjadi pokok keberuntungannya sholat, sebagaimana diterangkan dalam Alqur'an :
QOD AFLAHAL MU’MINUUN. ALLADZIINA FII SHOLAATIHIM KHOOSYI ‘UUN (Al-Mu’minun / 1-2).
“Sesungguhnya beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam sholatnya khusyu’”.

Di dalam ayat ini, yang disebut aflahal beruntung adalah orang yang khoosyi’uun / khusyu’. Jadi letak keberuntungannya pada khusyu’ atau tidaknya. Lalu apakah yang disebut dengan khusyu’ itu?.

Menurut Al-Qur’an “Khusyu’” adalah :
MULAAQUU ROBBIHIM WA ANNAHUM ILAIHI ROOJI’UN (Al-Baqoroh / 46).
“Bertemu Alloh dan kembali kepada Alloh”.

Bunyi lengkapnya ayat :
WASTA ‘IINUU BISSHOBRI WASSHOLAATI WA INNAHAA LAKABIIROTUN ILLAA ‘ALAL KHOOSYI’IIN. ALLADZIINA YA-DHUNNUUNA ANNAHUMM MULAAQUU ROBBIHIM WA ANNAHUM ILAIHI ROOJI’UUN.

“Dan mintalah pertolongan dengan shobar dan sholat, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang yaqin, sesungguhnya mereka itu bertemu dengan Tuhannya dan sesungguhnya mereka itu kembali kepadaNya”.           

Jadi khusyu’ itu adalah bertemu dengan Alloh dan kembali pada Alloh. Dengan demikian untuk bertemu dan kembali kepada Alloh itu tidak perlu menunggu besok diakherat, sekarang juga bisa, yaitu bila khusyu’ maka sekarang juga bertemu dengan Alloh dan kembali kepada Alloh. Selanjutnya pada saat wafat “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”, tidak perlu menunggu lama-lama langsung bisa liqoo ‘illah.

            Dan mereka itulah orang yang mendapat berkat, rohmat dan petunjuk dari Alloh :

INNAA LILLAAHI WAINNAA ILAIHI ROOJI’UUN. ULAAIKA ‘ALAIHIM SHOLAWAATU MIN ROBBIHIM WAROHMATUN WA-ULAA-IKA HUMUL MUHTADUUN (Al-Baqoroh / 156-157).

“Sesungguhnya aku dari Alloh dan sesungguhnya aku kembali kepada Alloh. Mereka itulah yang mendapat berkat yang sempurna dan rohmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

 Jadi khusyu’ itu adalah liqo’ (bertemu), dan liqo’nya itu di dalm hati, sebab yang disembah itu lebih dekat dari hatinya sendiri.