Selasa, 02 Oktober 2012

I K H L A S


Bismilallahir Rahmanir Rahiim
Allah Swt berfirman :
Al-Ikhlas itu adalah salah satu dari rahasia-rahasia-Ku,
yang telah Aku titipkan ke dalam hati
orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.

(Hadits Qudsi, Bihar al-Anwar 70 : 249)
 
Menurut bahasa, kata ikhlash berasal dari akar kata : khalasha – yakhlushu – khulushan – khalashan, yang artinya : murni, atau tidak bercampur (dengan unsur lainnya). Dari akar kata ini banyak makna lainnya di antaranya : bersih, jernih, khusus, menyendiri, yang dipilih, sampai, lepas, bebas, terhindar, selamat, memisahkan, habis, mencintai, tulus, membalas, selesai, inti, sari, jalan keluar, penolong, dan jujur. 16]
Keikhlasan adalah anugerah misterius yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berhati suci, dan selalu meningkatkan dan memperdalam iman serta penghambaannya.
 
Di dalam irfan atau tasawwuf, ikhlas memiliki istilah tersendiri. Khwajah Abdullah al-Anshari qs mengatakan, ”Arti ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari segala ketidakmurnian” Dan ketidakmurnian di sini adalah ketidakmurnian umum, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan makhluk lain.”

Ikhlash juga berarti : membebaskan perbuatan dari selain Tuhan yang berperan dalam perbuatan tersebut, atau suatu motivasi perbuatan yang tidak menginginkan balasan dunia mau pun akhirat. 19]
Penulis Gharaib al-Bayan menyebutkan bahwa : orang ikhlas itu adalah orang yang beribadah kepada Allah sedemikian rupa sehingga tidak memperhatikan kalau dirinya itu sedang beribadah, juga tidak memperhatikan dunia atau penghuninya, juga tidak melebihi batas-batas hamba dalam melihat Tuhan.
 
Syaikh al-Muhaqqiq Muhyiddin Ibn al-‘Arabi mengatakan, ”Bagi Allah-lah kesetiaan yang tulus, yang bersih dari semua noda dan egoisme. Dan kamu harus sepenuhnya sirna (fana) dalam Dia agar Dia tersambung dengan esensi, perbuatan dan agamamu. Selama kesetiaan belum disucikan secara hakiki, kesetiaan itu bukanlah untuk Allah.”
 
Ibadah orang-orang yang tulus merupakan jejak manifestasi (tajaliyyat) Sang Kekasih, dan yang senantiasa ada di hatinya hanyalah Zat Allah.
Imam Ali as mengatakan, “Beruntunglah orang yang telah memurnikan (akhlash) penghambaan dan do’anya hanya kepada Allah dan hatinya tidak disibukkan oleh apa-apa yang dilihat matanya, dan ia tidak lupa dari berzikir kepada Allah karena apa-apa yang didengar telinganya, dan hatinya tidak sedih karena karunia yang diberikan kepada selain dirinya.”
 
Rasulullah saw bersabda, “Semua orang yang berilmu itu (al-‘ulama) celaka kecuali yang beramal dan semua orang yang beramal itu celaka kecuali orang yang ikhlas dan orang ikhlas itu senantiasa dalam kekhawatiran.”
 
Manusia tidak pernah aman dari kejahatan setan dan egonya sampai akhir hayatnya. Dia tidak boleh membayangkan bahwa setelah ia berbuat ikhlas semata-mata demi Allah tanpa adanya keinginan untuk menyenangkan makhluk, kemurniann perbuatannya akan selalu aman dari kejahatan godaan setan, lintasan-lintasan ego dan hawa nafsu.
 
Jika ia tidak senantiasa waspada, niscaya suatu waktu ia akan tergelincir ke dalam bentuk riya atau ‘ujub yang sedemikian halus sehingga ia tidak menyadarinya. Sebentar saja manusia lalai, maka kendali egonya pun akan terlepas dan menyeretnya kepada perbuatan buruk dan tercela.
Sesungguhnya nafs (ego) manusia itu senantiasa mengajak kepada kejahatan, kecuali kalau Allah Swt mengasihi” (QS 12 : 53)
 
HAKIKAT IKHLAS
 
Rasulullah saw bersabda, ”Setiap kebenaran itu ada hakikatnya dan tidaklah seorang hamba dapat mencapai hakikat keikhlasan sampai ia merasa tidak suka dipuji atas amal (ibadah) yang ditujukannya kepada Allah.”
Imam Ali as berkata, ”Barangsiapa yang tidak bertentangan apa yang ada dalam hatinya dengan apa yang ia nyatakan, dan tidak bertentangan pula perbuatan dan perkataannya, maka sungguh ia telah menunaikan amanah dan telah memurnikan (akhlas) penghambaannya.”
 
Amal yang bernilai dalam pandangan Allah adalah amal yang dilakukan semata-mata untuk ‘menyenangkan’-Nya, betapa pun kecilnya amal itu. Amal sedikit yang dilakukan dengan ikhlas lebih disukai-Nya ketimbang banyak tetapi tidak ikhlas.
Rasulullah saw bersabda, ”Ikhlas-kanlah hatimu, niscaya mencukupimu walau dengan sedikit amal.”
 
Amal perbuatan merupakan gambaran yang tidak hidup, namun keikhlasan di dalamnya memberikan ruh kehidupan padanya.
Secara lahiriah, shalat Ali bin Abi Thalib as tidak berbeda dengan shalat orang-orang munafik. Namun secara batini, shalat Ali bin Abi Thalib memiliki nilai spiritual tertinggi yang mampu mengangkat ruhnya terbang ke langit, bermi’raj menghadap Tuhan.
 
Orang yang hatinya dibangkitkan oleh keikhlasan tidak peduli apakah orang lain akan mencela atau menyanjung amalnya atau tidak. Ia benar-benar tidak peduli bahkan apakah amal ibadahnya itu akan diberikan ganjaran atau tidak.
Perhatian orang yang ikhlas tidak pernah berubah, baik ia berada dalam keadaan susah mau pun senang. Hatinya hanya tertuju kepada Sang Kekasih, tidak kepada yang lain.
 
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan (mukhlishina) ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS 98 : 5)
 
Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah. Namun ibadah yang dicelup dengan warna ikhlas. Orang yang memberikan tempat kedua bagi Tuhan dalam hatinya sebenarnya ia tidak memberikan tempat sama sekali bagi Tuhan.
Jika amal dan keikhlasan kita umpamakan sebagai sepasang sayap, maka takkan mungkin kita dapat terbang tanpa sepasang sayap. Rumi mengatakan :
 
Engkau mesti ikhlas dalam beramal,
agar Tuhan Yang Maha Agung menerimanya.
ikhlash adalah sayap amal ibadah,
tanpa sayap, bagaimana engkau dapat
terbang ke tempat bahagia?

Jumat, 14 September 2012

LENYAPNYA DIRI DARI SEGALA NAFSU



Lenyapkan dirimu dari pandangan manusia, karena Allah, lenyapkan ke-aku-an karena Allah, hingga enkau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dan ke-aku-an ditandai dengan memutuskan sepenuhnya dari segala harapan pada mereka.
Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, kerana Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhir; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketak-bertujuan, ketak-butuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasif-lah organ-organ tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.
Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat – yang pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itulah kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dengan Tuhan.
 
Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, "
Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaligus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang bererti: berubah). Bagi peribadi-peribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Rabu, 05 September 2012

MENGENAL JATI DIRI


SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA, SESUNGGUHNYA DIA DAPAT MENGENAL TUHANNYA
 
Untuk dapat memahami Sabda Rasulullah tersebut diatas marilah kita terlebih dahulu mempelajari dan merenungkan ayat-ayat suci di bawah ini :
 
AL-MU’MINUN : 12-16
 
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
 
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
 
14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
 
15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
 
16. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.
NUH : 17
17. dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
 
YAA-SIIN: 77
77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
 
AL-HIJR:29
29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud
 
QAAF:16
16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
 
 
Apabila kita menyimak bunyi ayat-ayat Kitab suci tersebut di atas dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang terdiri dari :
  1. Badan Jasmani
  2. Badan Rohani ( Ruh)
Badan Jasmani manusia terdiri dari 4 macam unsur yaitu :
  1. Udara
  2. Api
  3. Air
  4. Tanah
 
Badan Jasmani manusia dianugerahi Tuhan dengan pancaindera yaitu :
  1. penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Pengucap
  4. Pencium
  5. Perasa
 
Disamping pancaindera, badan jasmani manusia memiliki 4 macam nafsu yaitu :
  1. LAUWAMAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur TANAH berada pada daging manusia
SIFAT LAUWAMAH :
-  Jahil
-  Serakah
-  Malas dan sebagainya
  1. AMARAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur API berada pad adarah, yang merata di seluruh tubuh manusia.
SIFAT AMARAH:
-  Mudah marah
-  Beringas
-  Mudah gugup dan sebagainya
  1. SUFIAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur AIR sebagian besar terdapat pada tulang sungsum, sedang bagian halusnya menjadikehendak.
SIFAT SUFIAH :
-  Keinginan
-  Asmara dan sebagainya
  1. MUTMAINAH
Yaitu nafsu yang tercipta dari unsur UDARA, terdapat pada nafas manusia
SIFAT MUTMAINAH
- Tenang
-  Suci
-  Bakti
-  Belas kasih dan sebagainya
 
AL-ISRAA : 85
85. dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
 
ROH adalah unsur ILLAHI bukan terdiri dari benda (materi) yaitu sumber CAHAYA atau sumber HIDUP yang menyebabkan manusia hidup. Apabila ROH keluar dari tubuh kita maka kita akan mati. Namun ROH manusia yang mati akan tetap hidup dan akan kembali ke asalnya. INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN
 
Unsur ROH inilah yang menyebabkan manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, ber-kesadaran, dan ber-pengertian.
 
Mengingat ROH adalah unsur ILLAHI, maka hanya TUHAN sajalah yang dapat menyatakan rahasianya.

Sabtu, 18 Agustus 2012

ZAKAT FITRAH DAN IDUL FITRI


Apakah zakat fitri dan idul Fitri itu. Zakat bahasa arab artinya suci atau mensucikan. Fitri artinya asal sifat manusia yang asli. Pada hakekatnya zakat fitri bukan beras, bukan nilai uang, bukan materi, tetapi kesucian, kebersihan.
Fitri adalah sifat asli manusia, proses dalam satu tahun untuk bisa mengembalikan sifat kemanusiaan yang asli. Kalau sudah bisa kembali kepada sifat manusia asli barulah masuk idil fitri, kembali pada sifat manusia yang asli. Tidak mungkin kita bisa masuk suasana idil fitri kalau tidak melalui proses zakat fitri proses kebersihan sifat asasi.
Qola Rosululloh SAW, QULLU MAULUDIN YULADU ALAL FITROH
Keterangan dari shohabat Al Aswat Bin Sari’, seluruh manusia yang dilahirkan didunia ini apakah manusia lahir di Eropa di Asia di Amerika apakah di Afrika, apakan dari komunitas agama Hindu, Budha, nasroni, Konghucu, Islam, Majusi, apa melalui jalan nikah yang syah atau melalui jalan perzinahan, lahir melalui orang kafir fasik munafik. Semua itu dilahirkan atas sifat asli yang suci, sama tidak ada perbedaan.
Ini ketetapan dari Rosululloh SAW.
Kemudian yang dimaksud sifat asli suci itu,
1.  Tiap tiap anak yang baru lahir pasti suci. Suci tidak mempunyai maksiat kepada Alloh Taala tidak ada waktu lahir itu musrik kafir nifak dan lain lain.
2.  Suci tidak pernah maksiat pada dirinya sendiri, matanya tidak pernah ma’siat telinganya, lesannya, tangannya,tidak pernah ma’siat pada dirinya sendiri.
3. Tiap tiap manusia baru lahir itu suci tidak mempunyai kesalahan kedholiman kepada sesama manusia kepada ibunya, bapaknya,kepada seluruh manusia. Suci .
4. Seluruh manusia lahir suci tidak pernah mengkhianati Tanah Air nya tidak pernah berdosa dengan alam semesta ini.
Oleh karena hidup itu seperti air mengalir terus, setelah lahir mengalir sampai batas mati, diwaktu aliran usia sampai baligh, berakal barulah manusia hidupnya kemasukan dosa, dosa terhadap Alloh, terhadap diri sendiri, sesama manusia, dosa terhadap ibu bapaknya dosa terhadap alam semesta ada yang melalui lesan mata hati fikiran, akhirnya hidup itu menjadi kotor padahal manusia akan kembali pada Alloh. Asal datang suci harus kembali kepada suci sebagaimana awal datangnya.
Diistilahkan orang yang sudah wafat di kain kafani putih supaya kembali kepada putih lagi. Kembali kepada fitroh perlu penyaringan, seluruh fungsi ibadah itu penyaringan. Oleh karena hidup kita melalui detik melalui menit, jam , hari, minggu, melalui bulan, tahun semua saringan harus dimulai dari situ.
Subhanalloh saringan, Alhamdulillah, Alloh akbar, dzikir sirri saringan, jahar saringan untuk menyaring diri kita agar kembali bersih lagi. Zakat itu meliputi sejak lahir sampai wafat. Sudah tentu kita kemasukan kotoran kotoran dosa. 
Saat dhuhur disaring, asar, maghrib, isya, subuh, itu saringan harian. Ada saringan mingguan, jum’at, ada saringan tahunan seperti puasa bulan Romadlon dan sebagainya. Setelah melalui saringan, bersih baru masuk Id kembali bersih kembali ke sifat asal manusia.
Alloh Taala berfirman dalam Alqur'an.
ALLOHU YADA’UL KHOLQO TSUMMA YU’IIDU
Alloh lah yang memulai penciptaan kemudian si makhluk itu kembalikan lagi.
Jadi kembali kepada asal sebenarnya bukan hanya manusia saja mengalami Idul fitri. Jam juga mengalami Idul fitri, jam satu setelah melalui putaran 12 jam kembali kepada satu, jam dua akhirnya Id kepada jam dua lagi, jam tiga akhirnya akan kembali pada jam tiga lagi, begitu juga hari hari, ahad setelah seminggu kembali lagi ke ahad. Hari senin setelah seminggu kembali lagi hari senin.
Begitu juga bulan, bulan puasa romadlon nanti setahun kembali kepada romadlon lagi. Syawal satu tahun kembali ke syawal lagi. Begitu pula tahun begitu pula malam, malam kembali ke malam lagi, siang kembali ke siang lagi, begitu juga bintang bintang, bulan, semua bintang bintang beredar mengalami Idul Fitri. Hampir sama dengan Thowaf. Manusia begitu juga, alam semesta ini juga mengalami Idul fitri dahulu tidak ada sekarang ada nanti pada sesuatu saat kembali Id tidak ada lagi. Jadi pengertian Idul Fitri itu luas mencakup seluruh alam ini. Itu lah pengertian "Id" zakat fitri dan Idil fitri.
Kalau sudah betul betul kembali Idil fitri disitu diisyaratkan diperintah takbir "ALLOHU AKBAR" mulai terbenam matahari sampai sholat Id batasnya.
Alloh maha besar mengisyaratkan di dalam Idil fitri dan zakat fitri itu kalau memang betul betul bisa Idil fitri disitu ada hikmah yang besar, ada daya yang besar yang mungkin jarang dipikirkan oleh manusia.
Yang ramai menjadi lengang yang lengang menjadi ramai. Idil Fitri mempunyai daya menimbulkan, mencairkan yang menggunung, tadinya harta benda seperti gunung di kota kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, hanya berputar putar disitu tapi karena terkena suasana Idul fitri cair. Harta benda mengalir seperti danau dibedah dari kota mengalir ke kota kecil, mengalir ke desa desa sehingga menjadi ekonomi pemerantaan. Begitu juga Idul Fitri bisa membangkitkan memori yang tersimpan dalam akal fikiran, ingat kepada teman yang dahulu, ingat pada teman jauh. Yang jauh dijelang yang dekat dihampiri yang tinggi didaki yang rendah dituruni sampai sampai orang orang dibarzah-pun diingatkan karena suasana Idil fitri. Dibangunkan kembali kesadarannya bahwa kita adalah umat yang sama sama berdosa antar sesama manusia hingga timbul ma’af memaafkan halal bi halal, dan masih banyak masalah idil fitri.
Begitu juga ingat kepada fakir miskin, datang dari kota membawa oleh-oleh untuk handai tolan, saudara dan sebagainya sehingga kelihatan tidak ada yang bakhil, semua kelihatan dermawan, semua itu karena suasana Idil fitri, yang tadinya kotor jadi berseri seri wajahnya senyum simpul antara satu dengan lainnya. Mudah mudahan suasana Idil fitri menjadi suasana yang tolong menolong "marhamma" kasih mengasihi sehingga menjadi masyarakat yang adil dan makmur

Minggu, 05 Agustus 2012

SEMPURNANYA SHOLAT


Bersabda Rosululloh SAW., :  “Tiap-tiap sesuatu itu ada pilihannya (ada intinya), dan pilihan di dalam sholat itu adalah takbir yang pertama”.
Dan sebagaimana disebutkan dalam Hadits di tulisan sebelumnya, bahwa kalau tidak sempurna ruku’nya, tidak sempurna sujudnya dan tidak sempurna khusyu’nya, maka itu adalah sejelek-jeleknya pencuri.
 Jadi yang dimaksud adalah  :
  • Apa makna Ruku’ kita ?
  • Apa makna Sujud kita ?
  • Apa makna Khusyu’ kita ?
Tidak sekedar lahirnya saja yang dimaksud dalam Hadits ini. Dan marilah kita ikuti kajian tashawwuf-nya.
TAKBIR
Di dalam Ibadah Sholat itu ada dua macam Takbir, yaitu  :
  1. TAKBIROTUL  IHROM  :  Yiatu Takbir yang paling awwal.
  2. TAKBIROTUL INTIQOLAT  :  Yaitu Takbir selain pada takbir yang pertama, ini adalah takbir untuk berpindahnya antara Rukun Sholat yang satu kepada Rukun Sholat selanjutnya.
Namun yang paling inti adalah  TAKBIROTUL  IHROM, karena disitulah tempatnya Niat.  Apabila kita melaksanakan Sholat, maka ketika membaca Takbirotul Ihrom itulah kita harus niat.
ALLOHU AKBAR :  “ALLOH  MAHA  BESAR”.
  • Maha Besar DzatNya.
  • Maha Besar IlmuNya.
  • Maha Besar QodratNya.
  • Maha Besar KalamNya.
  • Maha Besar Ni’matNya.
  • Maha Besar RohmatNya.
  • Maha Besar DzikirNya.
  • Maha Besar AmpunanNya.
  • Maha Besar KeridloanNya.
Jadi isinya       ALLOHU AKBAR    itu hanya mengandung maksud Kebesaran Alloh saja.
Dan oleh karena besarnya Ni’mat Alloh yang diberikan kepada manusia, maka manusia harus menghormati Dzat Yang Maha Besar.
Jadi maknanya kita berdiri ketika Takbirotul Ihrom itu adalah menghormati kepada Dzat Yang Maha Besar secara Lahir dan Bathin, inilah maknanya ‘Qiyaam’, ketika Sholat, jangan meremehkan tapi harus menghormati.
Lalu cukupkah hanya menghormati Alloh saja?. Tidak cukup. Lalu bagaimana?.
RUKU’
Juga harus menundukkan Diri Lahir dan Bathin, baikpun Tenaga, Fikiran, Perasaan, semuanya harus ditundukkan kepada Dzat Yang Maha Besar, ditundukkan kepada  ALLOHU  AKBAR.
Dan tunduk itu artinya adalah :  Ruku’.  Ruku’ itu menundukkan Jiwa, menundukkan Jasmani, menundukkan Fikiran, menundukkan Nafsu kepada Allohu Akbar.
Jadi setelah menghormati lalu menundukkan diri. Misalnya kita mau menghormati pada pimpinan kita kan harus tegak, tapi itu saja tidak cukup, harus menundukkan diri pula.  Dalam Hadits ini disebut  :
LAA  YATIMMA  RUKUU’AHAA
Apabila ruku’nya itu tidak sempurna, maka cara untuk menyempurnakannya adalah harus menundukkan diri. Bila tidak menundukkan diri maka itulah pencuri namanya.
Memang ruku’ secara lahir di dalam Sholat itu mudah saja, tapi yang dimaksud  ‘LAA  YATIMMA  RUKUU’AHAA’, ialah benar-benar menundukkan diri kepada Alloh.
Jadi bunyi Hadits ini jangan diartikan secara dhohir saja, itu namanya kuliti, sedangkan kita ini bukan kuliti tapi Quality. Cukupkah menundukkan diri?. Tidak cukup. Lalu harus bagaimana?.
SUJUD
Menghormat dan menundukkan diri saja tidak cukup, tapi juga harus taat kepada Alloh. Ta’at ialah :  Apa yang diperintahkan haruslah dilaksanakan.
  • Apabila diperintah menjauhi suatu larangan, maka dijauhi.
  • Apabila diperintah mengerjakan suatu perintah, maka dikerjakan.
Jadi taat itu ialah melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh, dan inilah juga maknanya Sujud. Sujud adalah ta’at akan perintah-perintah Alloh.
 Jadi kesimpulannya :
Berdiri itu :  Penghormatan atau mengagungkan diri kepada Alloh.
Ruku’ itu   :  Penundukkan, menundukkan diri kepada Alloh.
Maka setiap hari itu kita dididik untuk mengagungkan Alloh dan dididik ta’at kepada Alloh.  Dan adanya kita dididik untuk tunduk kepada Alloh karena di dalam Hadits Rosul bersabda  :
Qoola Rosuulullohi Shollallohu ‘alaihi Wasallam :   MAN  TAWAADLO’A  LILLAAHI  ROFA’AHULLOOHU.
Artinya :  Bersabda Rosululloh SAW., :  “Siapa yang tunduk kepada Alloh, maka Alloh mengangkatnya”.
Begitu juga tentang sujud, semua dunia ini baikpun langit, bumi, semuanya itu sujud atau ta’at kepada Alloh. Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an :
WALILLAAHI  YASJUDU  MAA  FIS  SAMAAWAATI  WAMAA  FIL  ARDLI. (An Nahl :49)
Artinya :  “Sujud kepada Alloh segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi”.
Matahari ta’at kepada Alloh, buktinya :  Jalannya Matahari itu mengikuti undang-undang Alloh. Begitu pula Bumi juga ta’at mengikuti undang-undang Alloh. Dan Bulan pun demikian, juga mengikuti undang-undang Alloh.  Jadi semuanya itu ta’at kepada Alloh, sehingga jutaan bintang-bintang tidak saling bertabrakan, ini adalah karena seluruh alam ta’at melaksanakan aturan-aturan dari Alloh.
Keta’atannya alam semesta ini jauh berbeda dengan kebanyakan manusia, kalau manusia diberi rambu-rambu tapi diterjang terus. Adalagi manusia yang ingin ta’at kepada Alloh, tapi ternyata keliru jalannya.
Cukuplah dengan hanya dengan mengagungkan dan menundukkan diri serta menta’ati saja?. Tidak cukup. Lalu harus bagaimana?. Haruslah Khusyu’.