Minggu, 13 Januari 2013

CINTA JASMANI ROHANI

Dalam mengamalkan dzikir ada yang menggunakan cara/thoreqat, yang mengamalkan dzikirnya selain diucapkan dengan bibirnya, juga diisikan didalam ingattannya, sehingga memperoleh kemantapan dan rasa meresap kedalam hati maknawi, hati sirri – iman.

Menurut Imam Al-Ghazali, HAKIKAT INSAN /maknawi-siiri-Iman / latifah , juga tempat jumpanya ma’rifat kepada Allah dan juga wadahnya NUR ILLAHI, sehingga disitulah dianugrahi Mukasyafah dan Musyahadah.

Dalam Hadist Hadist Qudsi : Artinya:
“Firman Allah, AKU jadikan pada anak Adam(manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada itu ada qalbu(tempat bolak balik ingatan), didalamnya lagi ada fuad(jujur ingatannya), didalamnya pula adasyagof(kerinduan),juga didalamnya ada lubbun(merasa terlalu rindu), dan didalamnya ada sirrun(merasa mesra) didalam itulah ada AKU”

Kemudian diterangkan pula dalam hadist lainnya, yang erat hubungannya dengan hadist qudsi tersebut diatas, sebagai berikut:
            Artinya:”Manusia itu rasa KU, dan AKU dirasakan manusia”.

Uraian hadist tersebut menunjukkan bahwa manusia harus melakukan ibadah kepada Allah SWT, dengan keadaan lurus dan terarah sehingga tembus dari mulai kulit sampai isi. Jadi bukan hanya kulitnya saja yang disebut yang disebut sadrun/dada jasmani manusia semata, dan begitu juga bukan hanya isinya saja yang disebut sirrun/rasa, tetapi kedua-duanya harus dihadapkan kepada Allah SWT baik diwaktu Hablumminalloh maupun di waktu Hablumminannaas agar lebih lengkap dan sempurna.

Sesuai dengan ucapan Ulama Tasawwuf Syekh Zainuddin bin Ali Al Malibari dalam kitabnya Al Azkiya:                    Artinya;”Melakukan syari’at tanpa hakikat adalah kosong tidak berisi, sebaliknya melakukan hakikat tanpa syri’at adalah bathal”

Demikian juga ucapan Imam Al Ghazali ;”bahwa ilmunya pun harus lengkap”.
              Artinya:” Siapa orang yang berfiqih saja tanpa tasawwuf adalah fasik, sebaliknya orang-orang bertasawwuf tanpa fiqih adalah zindik, dan siapa orang yang berfiqih dan bertasawwuf maka sesungguhnya adalah benar”.

Jadi untuk itu, demi kesempurnaan mengabdi kepada Allah SWT, agar kedua-duanya dipergunakan sebagaimana mestinya. Demikian seseorang Mukmin yang Muttaqien melaksanakan isi Al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi:
              Artinya:” Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir bathin”.

Sebagaimana diuraikan didalam hadist qudsi tersebut diatas, bahwa di dalam dada ada lima rongga, yaitu Kalbu,Fuad,Syagof,Lubbun dan Sirrun, yang kesemuanya it uterus menerus dilintasi oleh godaan syetan dan bujukan nafsu.
    Oleh karena itu manusia yang mengharapkan kebahagian dan kesejahteraan lahir bathin harus sanggup dan terus berusaha untuk membendung godaan-godaan syetan dan bujukan nafsu dalam rangka mewujudkan dan mengokohkan ibadah kepada Allah SWT, pada khususnya dan beramal baik dengan sesame manusia pada umumnya.
    Dalam hal ini, didalam ilmu tasawwuf yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist harus benar-benar menggunakan thoreqat atau metode, agar berhasil dengan baik dan tepat mengenai sasaran, apakah itu yang diucapkan dan dilakukan(amalan badan jasmani), demikian juga yang diingatkan yang dimulai dari qolbun sampai ketingkat sirrun (amalan badan ruhani).
     Didalam rasa mesra itulah tempat wusulnya manusia kepada Allah, disitulah tempat rasa syukur manusia atas nikmat yang diperoleh dari Allah Yang Maha Pengasih, disitu pulalah tempat sabarnya manusia terhadap musibah dari Allah SWT.
      Juga disitulah tempat rasa kasih sayang dan tolong menolong serta rasa maaf me-maafkan dengan sesama manusia, dan disitulah tempat rasa Mahabbah kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan disitulah tempat terbukanya hijab antara abid dengan ma’bud dan disitu juga adanya rasa setia, patuh dan rela mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan rela menjauhi apa-apa yang dilarangnya(taqwa).
      Jadi kesimpulannya bahwa eseorang Mukmin yang Muttaqien telah terisi rasa cintanya merembes mengalir pada gerak kegiatannya, baik zahir maupun bathinnya selalu dipersembahkan serta diserahkan sepenuhnya kepada Allah Jalla Jalaahu.

Hal ini sebagaimana sebuah ayat Allah yang selalu kit abaca setiap melaksanakan sholat fardlu maupun sholat sunnat dalam do’a iftitah.
               Artinya:”Sesungguhnya sholatku,ibadatku, hidup dan kehidupanku, serta matiku, kami serahkan semuanya kepada Allah SWT”.

Demikianlah sekedar uraian yang dapat kami sampaikan, semoga semua penjelesan-penjelasan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin

Kamis, 06 Desember 2012

HAKEKAT CAHAYA DZIKIR


Jagad raya ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang karena ada hakikat Alloh bersamanya. Ketika pada waktu malam yang gelap gulita, kita berdiri dipuncak bukit ? apa yg dapat kita lihat melalui mata dzohir ini, hanya kegelapan yg menyelimuti yg bisa kita lihat. Apabila siang matahari menyinari bumi dengan sinarnya, maka kelihatanlah semua yg ada disekitar kita.
Cahaya mendzohirkan kewujudan ( menampakkan segala wujud ) dan gelap pula membungkusnya. Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar. Apabila kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak tampak lagi. Hanya dg cahaya yang dapat mendzohirkan kewujudan, Ini disebabkan cahaya dapat menghalau kegelapan.
Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yg menutupi benda2 alam. Maka Cahaya Nur Ilahi  pula dapat menghalau kegelapan yg menutupi hakikat-hakikat yg ghaib.
Mata dikepala melihat benda2 alam dan Mata Hati melihat kepada hakikat-hakikat yg ghaib. Banyak benda alam yg dp dilihat oleh mata karena banyaknya cermin yg memantulkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis saja yg bersumber dari cahaya matahari.
Begitu pula dg pandangan mata hati, ia melihat banyak hakikat2 karena banyak cermin hakikat yg membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan nur ilahi bersumber dari Dzat Yang Maha Agung. 
Begitu pula dengan seorang murid yg baru belajar dzikir…hatinya baru menerima limpahan cahaya Ilahi yg berupa talqin dzikir dari seorang Mursyid yang Kamil Mukamil. Maka cahaya yg diperolehnya harus dia jaga dan pelihara. Oleh karena itu petunjuk Guru Mursyid harus selalu diistiqomahkan, dzikir, wirid, do’a dan tanbih/wejangan harus selalu diamalkan.
Secara otomatis ia akan menerima  limpahan cahaya  secara ruhani sehingga cahaya yg ada di qolbunya semakin terang dan dapat menerangi diri sendiri, orang lain dan alam seisinya dari Yang Maha Agung dari Guru Agung ( Mursyidnya). Sehingga ia akan menerima sinyal pesan-pesan melalui qolbunya dari Guru Mursyidnya.

CAHAYA HITAM ADALAH LAMBANG KEBIMBANGAN
Cahaya hitam adalah hijab, untuk menyamarkan segala sesuatu :
1. Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
2. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
3. Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.
4. Yang sudah Yakin, jadi tersamar dg keyakinannya, sebab masih bingung akan keyakinannya akhirnya tidak yakin.
5. Memang benar itu hitam, ketika dipandang terus jadi tidak hitam
Cahaya hitam adalah sebuah misteri, rahasia sang pencipta, Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang2 egois, akuisme, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang2 yg sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati.
Dan orang yg dianugerahi Sang Rahasia ( Dzikir Sirri ) hidupnya akan berhasil kepuncak kebahagiaan dan kemuliaan abadi Lahir-Bathin.

Sabtu, 17 November 2012

MENCINTAI DIRI


Tiap-tiap manusia sudah tentu cinta akan dirinya. Hal ini diterangkan oleh Imam Ghozali R.A.
ANNAL INSAANA LAA YAKHFA ANNAHU YUHIBBU NAFSAHU
Artinya:" Sesungguhnya manusia tidak samar, bahwa sesungguhnya dia manusia, mesti cinta akan dirinya ".
           
Adapun bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
1. Bila ada photo satu album dan dilihat-lihat ada photo dirinya yang berjejer dengan orang lain. Setelah dilihat-lihat dan ketemu, maka waktu memandang photo dirinya sangat lama memandangnya, dan kalau memandang photo lainnya maka memandangnya itu menitan bahkan detikan (sebentar). Dan bila memandang photonya itu ternyata pantas dan senang, itu adalah alamat bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
2. Bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya, jika ia ternyata dicacat, dihina, maka timbul tidak terima, tidak ridlo.
 
3. Adanya manusia itu cinta akan istrinya, adalah bukti bahwa dia cinta akan dirinya, sebab istrinya adalah ladang bagi dirinya. Jadi masih ada hubungannya dengan dirinya.
4. Adanya manusia itu cinta akan anaknya, adalah disebabkan anak itu lestarinya dirinya sendiri. Jadi tetap artinya adalah mencintai akan dirinya sendiri. Dan adanya orang tua mencintai anak, sebab anak itu TSAMROTUL QOLBI (Anak itu buahnya hati). Sebagaimana tersebut dalam hadist nabi yang berbunyi:
QOLAA ROSUULULLOHI SHOLLALLOOHU ALAIHI WASALLAM.
ANNAA LIKULLI SYAJAROTUN TSAMROTUN, WA TSAMROTUL QOLBI AL WALADU
Artinya: Bersabda Rosululloh SAW.Sesungguhnya setiap pohon itu ada buahnya dan buahnya hati adalah anak".
 
Jadi mencintai anak, itu tidak lepas dari mencintai dirinya sendiri.

Rabu, 07 November 2012

CINTA ILLAHIYAH


Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 165 ; 
artinya: “Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah SWT”
Pengertian ayat tersebut diatas bahwa bukan berarti meniadakan cinta kepada makhluk, tetapi cintanya itu terus terarah hingga menembus sampai kepada Al-Khaliq, dan bahwa cinta kepada yang lain itu selalu dibawah naungan cinta kepada Allah Yang Maha Pencipta.
Seorang yang telah dikaruniai Allah rasa mahabbah kepada-NYA tentu juga akan mencintai dan menyayangi kepada ciptaanNYA, antara lain cinta Tanah Air, sehingga segala keadaannya menjadi terpelihara, teratur, terbina, tertib dan rapih sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya belum tentu seseorang yang mencurahkan rasa cintanya kepada makhluk semata, akan bisa sampai cintanya kepada Al-Khaliq.
Sesungguhnya mahabbah kepada Allah SWT adalah merupakan jembatan emas untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu orang-orang mukmin yang muttaqin terus berupaya untuk meningkatkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah SWT, dalam rangka memperoleh kebahagiaan didunia dan di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 64:
Artinya : “Bagi merekalah segala kebahagiaan dalam penghidupan dunia dan akhirat”.
Kemudian firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 14:
Artinya:”Manusia-manusia dihiasi rasa cinta serta keinginan diantaranya ; cinta kepada istri,kepada anak-anak dan kepada kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, juga kuda-kuda yang bagus dan binatang ternak lainnya. Demikian juga kepada sawah dan ladang dan kebun-kebun . Itulah kesenangan untuk hidup didunia. Dan kepada Allah itu sebaik-baik tempat kembali”
Pengertian ayat tersebut diatas, ialah janganlah kalah kadar cintanya kepada Allah SWT, dari cintanya kepada makhluk, sehingga Allah berfirman dalam ayat berikutnya dalam surat Al-Fajr ayat 20:
Artinya:”Dan kamu itu hanya mencintai kepada kekayaan saja”
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa semua (dunia dan akhirat) sebagai anugrah dari Allah SWT, yang diperuntukkan bagi manusia, akan tetapi manusianya sendiri karena lemah imannya sehingga terlibat hanya mencintai dunia. Oleh karena itu orang yang demikian diancam dalam Al-Qur’an surat At-Taubat ayat 20:
Artinya:”Katakanlah kepada mereka, jadi apabila Bapak-bapakmu, anak-anakmu, istri-istrimu, keluargamu, harta bendamu yang kamu dapati, dan perniagaan yang kamu takut rugi dan tempat-tempat tinggal(rumah) yang selalu kamu senangi melebihi cintamu kepada semuanya dari pada cintanya kepada Allah SWT, dan Rosulnya, serta jihad/berjuang di jalan NYA. Maka tunggulah olehmu sampai Allah SWT, mendatangkan azab-NYA, karena Allah SWT, tidak akan member petunjuk kepada orang fasik(melewati batas)”.
Pengertian ayat tersebut ialah: bahwa kita harus mengupayakan agar cintanya kepada Allah SWT. Jangan terkalahkan oleh cintanya kepada yang lain, yang mana Allah SWT member petunjuk dalam firmanNYA agar umat manusia mengikuti jejak Nabi-NYA.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 30:
Artinya :”Katakan oleh mu Muhammad, jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, hendaklah ikuti Aku, niscaya Allah menyatakan kasih sayangNYA kepadamu, juga diampuni segala dosa-dosamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa kewajiban kita semua mengikuti (menteladani) jejak langkah Nabi yang selalu menjadi panutan dan merupakan standar kita semua yang membawakan dan menyampaikan wahyu Illahi kepada ummat seluruhnya oleh kita semua, sehingga akan menyelamatkan di dunia dan di akhirat kelak.
Dan ajaran Al-Qur’an mencakup zahir bathin, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya:”Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir dan bathin”.
Kemudian sebagian isinya untuk mengatur Hablumminallah(hubungan dengan Allah) dan juga mengatur Hablumminannaas(hubungan dengan sesama manusia) dengan segala cara-caranya.
Untuk memiliki rasa cinta/mahabbah kepada Allah, Nabi Muhammad pernah menunjukkan kepada Sayyidina Ali ra.
Artinya:”Ciri – ciri cinta kepada Allah terlebih dahulu cinta dzikir kepadaNYA, dan sebaliknya, cirri-ciri membangkang kepada Allah, enggan dzikir kepadaNYA”. Semoga kita semua termasuk insane yang cinta dzikir kepada Allah agar senantiasa memperoleh rasa mahabbah/cinta kepadaNYA.

Sabtu, 20 Oktober 2012

JANGAN MENYESALI KEKURANGAN DIRI


Berhentilah menyesali kekurangan diri sehingga apa yang anda dapat dalam hidup selama ini, tidak sesuai dengan harapan yang diimpikan.
Secara Filosofis memahami sebab-sebab kekurangan diri adalah hal yang paling penting dalam anda mendapat kebahagian hidup yang anda jalani. Kenapa begitu? Karena jika kita menaruh harapanm yang terlalu tinggi dari kemampuan yang sebenarnya, ujung-ujungnya hanya akan menyebabkan diri anda merasa tertekan, bahkan tidak tertutup kemungkinan kenyataan itu akan menimbulkan penyakit kejiwaan.
 
Percaya atau tidak, kebiasaan selalu tidak pernah bersyukur atau menysukuri apa yang kita miliki atau kita dapat adalah sebuah kebiasaan buruk yang telah menjadi kebiasaan dari kita, sehingga kita sulit dalam mendapatkan kebahagian dalam hidup, karena selalu merasa tidak beruntung, walau sebenarnya kalau kita sadari kita telah memiliki banyak hal dalam hidup kita.
 
Ketika kita mendapat sesuatu mimpi atau keinginan, misalnya, sebagai manusia pasti kita akan tergoda atau tersirat dalam benak kita bahwa yang kita dapat terkadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, dan jauh didalam hati kita, kita berharap mendapat sesuatu yang lebih baik lagi.
 
Sebagai contoh lain, ketika ketika kita berharap pertama kita berharap mendapat mobil, tanpa embel-embel jenis mobil yang kita inginkan hanya sebuah mobil, tetapi sejalan dengan itu kita bisa mendapat mobil, yang kita dapat mungkin sejenis minibus, tetapi dalam hatikita, mungkin kita berharap mendapat mobil sedan. Hal seperti itulah yang bisa membuat kita berfikir seandainya saya mendapat mobil sedan pasti saya lebih bahagia. Lupakah kita akan keinginan awal kita, yang berharap hanya mendapat mobil, tetapi ketika kita mendapat apa yang kita inginkan, keinginan kita berkembang menginginkan yang lebih. Itulah sifat dasar manusia yang tidak pernah puas dan bahagia walau terkdang apa yang diinginkan telah terpenuhi.
 
Coba kemudian kita tanyakan pada diri kita secara terbuka, pasti kita pernah mengalami perasan seperti ini, karena hampir semua orang pernah mengalaminya. permasalahanya adalah ketika terjadi GAP/perbedaan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan, kita menjadi tidak puas atau bahkan bisa mengarah ke frustasi. Hal itu juga berlaku dalam hubungan kita dengan sesama juga dalam semua aspek kehidupan kita.
 
Kuncinya adalah dengan melihat atau menyadari tentang gap yang terjadi antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan. cobalah sedikit luangkan waktu untuk bertanya pada diri anda sendiri apa yang sebenarnya kita harapkan, dan tanyakan juga apakah kalau kita sudah memiliki yang kita inginkan kita akan puas, dan apa bedanya sesuatu yang kita miliki dengan apa yang kita inginkan, cobalah nikmati dan syukuri apa yang anda miliki saat ini, dan anda akan menemukan sesuatu yang membuat anda bahagia.
 
Karena itu, yakinlah apa yang kita miliki adalah sesuatu yang terbaik, dan coba lihat sekeliling anda, bahwa banyak orang yang sebenarnya masih mengejar apa yang anda miliki, dan banyak orang yang menginginkan apa yang anda miliki, jangan menjadi menyesal ketika apa yang kita miliki Keluarga, Pekerjaan, Atau Bisnis, Pendidikan, atau pun suatu benda yang telah anda miliki itu hilang, atau raip.
Jangan jadi orang yang gampang menyesal ketika kita kehilangan yang kita miliki, karena kita tidak pernah mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki, karena terlalu terbuai dengan apa yang anda inginkan.
 
"Syukuri, nikmati, dan Jaga apa yang anda dapat dan miliki saat ini, karena anda akan merasakan penyesalan ketika sesuatu yang kita miliki itu hilang ."
"Dengan bersyukur sesuatu yang kecil akan bernilai luar biasa"