Senin, 11 Maret 2013

LETAK KEMULYAAN DAN KEJAYAAN

TAQWA ITU BISA MENJADI PENETRAL DARI BAHAYA

Taqwa itu disamping menjadi benteng, juga bisa menjadi penetral dari bahaya. Termasuk penetral dari bahaya kekayaan.
Sebagaimana dalam hadis Nabi diterangkan bahwa : Dengan taqwa itu maka meskipun kaya, tidak akan berbahaya.
Buktinya seperti : Nabiyulloh Sulaiman, Nabiyulloh Ibrohim, Nabiyulloh Yunus, shohabat Abu Bakar, Shohabat Zubair dan seterusnya, karena taqwanya kepada Alloh maka mereka semuanya tidak sampai kena terpedonya kekayaan.

Jadi taqwa itu bisa untuk menetralkan diri.
Diwaktu kaya bila taqwa maka kekayaannya tidak membahayakan.
Diwaktu fakir bila taqwa maka kefakirannya tidak membahayakan.
Begitu pula diwaktu dalam keadaan sehat – taqwa, sakit – taqwa, dipuja orang – taqwa, dicacat juga tetap taqwa, maka semua keadaan itu tidak akan membahayakan kita.
TAQWA MENJADI LETAKNYA KEMULYA-AN DAN KEJAYA-AN.

Semua manusia itu mesti hidupnya ingin mulya, ingin jaya. Tidak ada satupun manusia yang hidupnya ingin hina. Hanya saja dalam menilai dimanakah letaknya kemulyaan dan kejayaan manusia itu berbeda-beda.
Diantaranya :

1. Ada yang berpendapat bahwa letak kemulyaan dan kejayaan manusia itu ada pada kekayaan yang melimpah.

Pendapat ini adalah tidak benar, mungkin bagi pandangan manusia benar, tapi bagi Alloh tidak benar. Kalau memang letaknya kemulyaan dan kejayaan itu ada pada kekayaan yang melimpah, tentunya masih lebih mulya gunung. Karena didalam gunung itu tersimpan banyak kekayaan, didalam gunung itu terdapat banyak emas, berlian, besi, perak dan lain sebagainya. Beda dengan manusia, kalau manusia itu lahirnya tidak membawa apa-apa, tidak membawa pakaian, tidak membawa sandal, tidak membawa sepatu dan bahkan yang dikeluarkan dari tubuhnya juga kotor. Adapun bisanya punya pakaian, sepatu dan lain sebagainya adalah karena hadiah dari alam, hadiah dari tumbuh-tumbuhan. Dan seandainya tidak diberi hadiah dari alam pula, maka manusia tidak akan punya perhiasan, tidak punya kendaraan, tidak punya rumah dsb. Jadi manusia itu pada dasarnya miskin, asalnya tidak punya apa-apa, lahirnya telanjang. Tapi walau begitu, kadang setelah lahir kedunia dan kaya, merasalah jadi mulya sehingga menjadi sangat sombong. Sebenarnya dia itu kaya apa sih, semuanya toh hanya hadiah saja dari alam.

Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan manusia itu ada pada kekayaan maka jadinya seluruh hidupnya difokuskan kesana. Segala susah payah ditempuh, yang jauh dijelang, yang dekat dihampiri, bahkan kadang sampai menempuh silang sengketa, berbelah rotan, bertolak punggung antara anak dengan bapaknya demi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal kalau sudah banyak harta, biasanya terus menjadi budaknya harta, menyembah harta. Bila malam tiba, sering tidak bisa tidur kuatir hartanya ada yang mencuri. Mendengar suara kretek saja sudah bingung dikiranya maling padahal hanya tikus. Jadi dia itu malah menjadi penjaga hartanya, tersiksa oleh hartanya.

Tragisnya lagi, orang lain yang sepertinya menghormati dan mentaati itu kadang hanya semu belaka. Mereka itu mungkin menghormati hanya karena hartanya, bukan karena orangnya. Sehingga selama masih beruang dia masih disayang, banyak orang-orang yang mendatanginya. Tapi kalau dilihat uangnya sudah habis (tidak kaya), dia tidak lagi dihormati. Dan orang-orang yang dulunya sering menemani, sekarang tidak mau muncul lagi. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kesimpulannya: Yang pasti kemulyaan dan kejayaan itu bukanlah terletak pada kekayaan.

2. Ada lagi yang menganggap bahwa letak kemulyaan itu ada pada manfaat tubuhnya.

Kalau yang mejadi ukuran kemulyaan manusia itu ada pada manfaat tubuhnya maka masih lebih mulya sapi. Coba perhatikan sapi itu, tulangnya bisa dibuat kancing baju, tanduknya bisa dijadikan sisir, dagingnya bisa dimakan, susunya bisa diminum, kotorannya bisa dibuat pupuk, sedangkan manusia, mana ada tulangnya yang dijadikan kancing baju ?. Begitu kok membangga-banggakan manfaat tubuhnya.

3. Ada lagi yang menganggap bahwa kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya, pada ketampanannya.

Padahal soal ketampanan manusia, kalau difikir sebenarnya tidak lebih bagus dari kucing. Coba kalau manusia itu rambutnya tidak di sisir satu hari saja, pasti rambutnya sudah modal madul, kelihatan jelek. Tapi kalau kucing, dari lahir sampai mati tidak pernah bersisir sudah rapi terus.

Bagi yang berkeyakinan letak kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya atau ketampanannya, maka setiap hari kerjanya hanya bersolek saja, cuma mengatur keindahan tubuhnya. Bersisirnya saja dalam satu hari berulang kali, tapi akhlaqnya tidak pernah disisir. Sepatunya setiap hari juga digosok atau disemir, tapi hatinya tidak pernah digosok. Kalau mengaca, kacanya saja sampai dobel 6, ada yang untuk mengacai rupanya, ada yang untuk mengacai telinganya, pantatnya dan lain-lainnya. Cara jalannya juga ditata biar kelihatan indah kalau jalan, sehingga kadang berjalan mondar-mandir didalam kamar untuk latihan jalan yang baik. Lembehan tangannya juga diatur agar tampak indah. Kemudian kalau sudah bisa masuk koran atau televisi, menjadi bangga.

Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan itu ada pada ketampanannya maka segala perhatiannya ditumpahkan kesitu. Padahal ketampanan itu hanya bayangan, sedangkan banyangan tidak mempunyai ukuran tertentu. Mungkin sekarang tampan tapi tunggu, sebentar lagi pasti peot.

Bila kemulyaan itu dianggapnya terletak pada ketampanannya, lalu bagaimana bila ketampanannya sudah hilang (Entah karena sudah tua atau lainnya)?. Berarti dia sudah tidak mulya lagi sehingga tidak dihormati lagi. (Karena yang dihormati bukan akhlaqnya melainkan ketampanannya).

Ini tadi adalah bagi pria yang disebut dengan istilah tampan atau ketampanan. Sekarang bagi wanita yang disebut dengan istilah cantik.

Ada manusia itu yang sangat membanggakan kecantikannya. Dan ada yang karena sangat cantiknya, sampai diceritakan dengan berlebihan, yaitu : Bila melewati suatu sungai, aliran sungainya seakan berhenti karena ingin di sentuh oleh wanita cantik tersebut. Bila berada dibawahnya bunga, bunganya akan doyong sendiri seakan menawarkan diri untuk dipetik oleh si wanita cantik itu. Dengan kecantikan yang demikian ini membuatnya sangat bangga. Padahal kecantikan dhohir itu tidak akan lama, sebentar lagi pasti rontok. Sebagaimana tidak lamanya terangnya mata, mata yang semula terang, tidak lama kemudian harus memakai kaca mata. Di ikuti dengan tubuh yang asalnya tegak, lalu berubah memakai tongkat. Gigi yang asalnya utuh, kemudian jadi pretel (rontok). Kulit yang asalnya kenceng, kemudian berkeriput. (Katanya : Kalau keriput, ya oprasi plastik. Akhirnya setelah oprasi plastik, tambah rusak).

Walau kecantikan itu dibangga-banggakan, bila sudah pudar ya tidak beda dengan nasibnya bunga mawar yang semula indah kemudian rontok, yaitu : tidak ada lagi yang memperhatikan nasibnya. Bahkan rontokannya (yang pernah membuatnya indah) ketika jatuh ketanah, terinjak-injak oleh orang yang lewat, juga terinjak-injak hayawan, tidak ada yang merasa sayang. Coba apa ada orang yang setelah melihat protolan bunga yang sudah jatuh ketanah (yang sudah campur dengan debu) itu kemudian mengumpulkan nya lagi untuk disimpan ?. Tidak ada kan.

Jadi kalau ada orang yang hanya mengandalkan ketampanannya atau kecantikannya saja berarti sama dengan mengandalkan bayangannya saja. Padahal bayangan itu sebentar lagi pasti akan hilang. Dan disitu juga bukan letaknya kemulyaan manusia.

4. Ada juga yang beranggapan bahwa kemulyaan itu terletak pada pangkat dun-yawiyyah. Seperti tanda pangkat bintang emas, jadi pejabat dan lain sebagainya.

Anggapan ini juga kliru. Dan juga orang yang menghormati pangkat itu hanyalah sementara, yaitu sementara bila dipundaknya masih ada pangkatnya (masih tersandang bintang emasnya) atau masih menjadi pejabat. Bila sudah tidak ada pangkatnya (pensiun) atau sudah tidak jadi pejabat, ya tidak dihormati lagi, karena memang yang dihormati itu bukan orangnya melainkan kedudukannya (pangkatnya).

Adapun yang benar masalah letak kemulyaan dan kejayaan itu ada pada taqwalloh. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Alqur-an :
INNA AKROMAKUM 'INDALLOOHI ATQOO KUM. (Al hujurot ayat 11).
Artinya :" Sesungguhnya semulya-mulyamu di sisi Alloh adalah yang paling taqwa diantara kamu".

Coba perhatikan wali 9 itu, meskipun sudah hancur menjadi debu, tetap saja banyak didatangi orang, padahal tidak ada yang menyuruhnya ziarah. Lihat sendiri di makamnya Sunan bonang, Sunan Ampel, bukankah yang datang itu terus menerus dan banyak sekali ?. Karena banyaknya yang menziarahi, sehingga bisa memberi penghidupan kepada sekitarnya (memberi kehidupan orang banyak). Kalau demikian coba anda pikir-pikir, kira-kira yang hidup itu yang mana?.

Para peziarah juga tahu bahwa yang didatangi itu kuburan dan seandainya yang didalam kubur itu dipanggil namanya, ya diam saja, karena memang kuburan. Pernah juga kami waktu di Kudus (di makamnya sunan Kudus), ditembok makamnya itu ada tulisan permintaan, yaitu minta agar segera dapat jodoh. Bunyi tulisannya : " Sunan Kudus, saya ingin cepat mendapat jodoh ". Yang begini ini bagaimana ?. Ya tidak dijawab oleh Sunan Kudus, karena sudah wafat. Walau begitu tetap saja banyak orang yang datang, ada yang datangnya untuk mendoakan misalnya dengan membaca surat Yasin, ada yang mengharap dapat barokahnya, ada yang mengharap agar cepat dapat jodoh dan lain sebagainya.

Adapun ramainya peziarah wali 9 itu adalah karena Taqwanya wali 9 dan taqwanya itu abadi.

Minggu, 13 Januari 2013

CINTA JASMANI ROHANI

Dalam mengamalkan dzikir ada yang menggunakan cara/thoreqat, yang mengamalkan dzikirnya selain diucapkan dengan bibirnya, juga diisikan didalam ingattannya, sehingga memperoleh kemantapan dan rasa meresap kedalam hati maknawi, hati sirri – iman.

Menurut Imam Al-Ghazali, HAKIKAT INSAN /maknawi-siiri-Iman / latifah , juga tempat jumpanya ma’rifat kepada Allah dan juga wadahnya NUR ILLAHI, sehingga disitulah dianugrahi Mukasyafah dan Musyahadah.

Dalam Hadist Hadist Qudsi : Artinya:
“Firman Allah, AKU jadikan pada anak Adam(manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada itu ada qalbu(tempat bolak balik ingatan), didalamnya lagi ada fuad(jujur ingatannya), didalamnya pula adasyagof(kerinduan),juga didalamnya ada lubbun(merasa terlalu rindu), dan didalamnya ada sirrun(merasa mesra) didalam itulah ada AKU”

Kemudian diterangkan pula dalam hadist lainnya, yang erat hubungannya dengan hadist qudsi tersebut diatas, sebagai berikut:
            Artinya:”Manusia itu rasa KU, dan AKU dirasakan manusia”.

Uraian hadist tersebut menunjukkan bahwa manusia harus melakukan ibadah kepada Allah SWT, dengan keadaan lurus dan terarah sehingga tembus dari mulai kulit sampai isi. Jadi bukan hanya kulitnya saja yang disebut yang disebut sadrun/dada jasmani manusia semata, dan begitu juga bukan hanya isinya saja yang disebut sirrun/rasa, tetapi kedua-duanya harus dihadapkan kepada Allah SWT baik diwaktu Hablumminalloh maupun di waktu Hablumminannaas agar lebih lengkap dan sempurna.

Sesuai dengan ucapan Ulama Tasawwuf Syekh Zainuddin bin Ali Al Malibari dalam kitabnya Al Azkiya:                    Artinya;”Melakukan syari’at tanpa hakikat adalah kosong tidak berisi, sebaliknya melakukan hakikat tanpa syri’at adalah bathal”

Demikian juga ucapan Imam Al Ghazali ;”bahwa ilmunya pun harus lengkap”.
              Artinya:” Siapa orang yang berfiqih saja tanpa tasawwuf adalah fasik, sebaliknya orang-orang bertasawwuf tanpa fiqih adalah zindik, dan siapa orang yang berfiqih dan bertasawwuf maka sesungguhnya adalah benar”.

Jadi untuk itu, demi kesempurnaan mengabdi kepada Allah SWT, agar kedua-duanya dipergunakan sebagaimana mestinya. Demikian seseorang Mukmin yang Muttaqien melaksanakan isi Al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi:
              Artinya:” Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir bathin”.

Sebagaimana diuraikan didalam hadist qudsi tersebut diatas, bahwa di dalam dada ada lima rongga, yaitu Kalbu,Fuad,Syagof,Lubbun dan Sirrun, yang kesemuanya it uterus menerus dilintasi oleh godaan syetan dan bujukan nafsu.
    Oleh karena itu manusia yang mengharapkan kebahagian dan kesejahteraan lahir bathin harus sanggup dan terus berusaha untuk membendung godaan-godaan syetan dan bujukan nafsu dalam rangka mewujudkan dan mengokohkan ibadah kepada Allah SWT, pada khususnya dan beramal baik dengan sesame manusia pada umumnya.
    Dalam hal ini, didalam ilmu tasawwuf yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist harus benar-benar menggunakan thoreqat atau metode, agar berhasil dengan baik dan tepat mengenai sasaran, apakah itu yang diucapkan dan dilakukan(amalan badan jasmani), demikian juga yang diingatkan yang dimulai dari qolbun sampai ketingkat sirrun (amalan badan ruhani).
     Didalam rasa mesra itulah tempat wusulnya manusia kepada Allah, disitulah tempat rasa syukur manusia atas nikmat yang diperoleh dari Allah Yang Maha Pengasih, disitu pulalah tempat sabarnya manusia terhadap musibah dari Allah SWT.
      Juga disitulah tempat rasa kasih sayang dan tolong menolong serta rasa maaf me-maafkan dengan sesama manusia, dan disitulah tempat rasa Mahabbah kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan disitulah tempat terbukanya hijab antara abid dengan ma’bud dan disitu juga adanya rasa setia, patuh dan rela mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan rela menjauhi apa-apa yang dilarangnya(taqwa).
      Jadi kesimpulannya bahwa eseorang Mukmin yang Muttaqien telah terisi rasa cintanya merembes mengalir pada gerak kegiatannya, baik zahir maupun bathinnya selalu dipersembahkan serta diserahkan sepenuhnya kepada Allah Jalla Jalaahu.

Hal ini sebagaimana sebuah ayat Allah yang selalu kit abaca setiap melaksanakan sholat fardlu maupun sholat sunnat dalam do’a iftitah.
               Artinya:”Sesungguhnya sholatku,ibadatku, hidup dan kehidupanku, serta matiku, kami serahkan semuanya kepada Allah SWT”.

Demikianlah sekedar uraian yang dapat kami sampaikan, semoga semua penjelesan-penjelasan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin

Kamis, 06 Desember 2012

HAKEKAT CAHAYA DZIKIR


Jagad raya ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang karena ada hakikat Alloh bersamanya. Ketika pada waktu malam yang gelap gulita, kita berdiri dipuncak bukit ? apa yg dapat kita lihat melalui mata dzohir ini, hanya kegelapan yg menyelimuti yg bisa kita lihat. Apabila siang matahari menyinari bumi dengan sinarnya, maka kelihatanlah semua yg ada disekitar kita.
Cahaya mendzohirkan kewujudan ( menampakkan segala wujud ) dan gelap pula membungkusnya. Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar. Apabila kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak tampak lagi. Hanya dg cahaya yang dapat mendzohirkan kewujudan, Ini disebabkan cahaya dapat menghalau kegelapan.
Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yg menutupi benda2 alam. Maka Cahaya Nur Ilahi  pula dapat menghalau kegelapan yg menutupi hakikat-hakikat yg ghaib.
Mata dikepala melihat benda2 alam dan Mata Hati melihat kepada hakikat-hakikat yg ghaib. Banyak benda alam yg dp dilihat oleh mata karena banyaknya cermin yg memantulkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis saja yg bersumber dari cahaya matahari.
Begitu pula dg pandangan mata hati, ia melihat banyak hakikat2 karena banyak cermin hakikat yg membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan nur ilahi bersumber dari Dzat Yang Maha Agung. 
Begitu pula dengan seorang murid yg baru belajar dzikir…hatinya baru menerima limpahan cahaya Ilahi yg berupa talqin dzikir dari seorang Mursyid yang Kamil Mukamil. Maka cahaya yg diperolehnya harus dia jaga dan pelihara. Oleh karena itu petunjuk Guru Mursyid harus selalu diistiqomahkan, dzikir, wirid, do’a dan tanbih/wejangan harus selalu diamalkan.
Secara otomatis ia akan menerima  limpahan cahaya  secara ruhani sehingga cahaya yg ada di qolbunya semakin terang dan dapat menerangi diri sendiri, orang lain dan alam seisinya dari Yang Maha Agung dari Guru Agung ( Mursyidnya). Sehingga ia akan menerima sinyal pesan-pesan melalui qolbunya dari Guru Mursyidnya.

CAHAYA HITAM ADALAH LAMBANG KEBIMBANGAN
Cahaya hitam adalah hijab, untuk menyamarkan segala sesuatu :
1. Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
2. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
3. Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.
4. Yang sudah Yakin, jadi tersamar dg keyakinannya, sebab masih bingung akan keyakinannya akhirnya tidak yakin.
5. Memang benar itu hitam, ketika dipandang terus jadi tidak hitam
Cahaya hitam adalah sebuah misteri, rahasia sang pencipta, Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang2 egois, akuisme, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang2 yg sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati.
Dan orang yg dianugerahi Sang Rahasia ( Dzikir Sirri ) hidupnya akan berhasil kepuncak kebahagiaan dan kemuliaan abadi Lahir-Bathin.

Sabtu, 17 November 2012

MENCINTAI DIRI


Tiap-tiap manusia sudah tentu cinta akan dirinya. Hal ini diterangkan oleh Imam Ghozali R.A.
ANNAL INSAANA LAA YAKHFA ANNAHU YUHIBBU NAFSAHU
Artinya:" Sesungguhnya manusia tidak samar, bahwa sesungguhnya dia manusia, mesti cinta akan dirinya ".
           
Adapun bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
1. Bila ada photo satu album dan dilihat-lihat ada photo dirinya yang berjejer dengan orang lain. Setelah dilihat-lihat dan ketemu, maka waktu memandang photo dirinya sangat lama memandangnya, dan kalau memandang photo lainnya maka memandangnya itu menitan bahkan detikan (sebentar). Dan bila memandang photonya itu ternyata pantas dan senang, itu adalah alamat bahwa manusia itu cinta akan dirinya.
 
2. Bukti bahwa manusia itu cinta akan dirinya, jika ia ternyata dicacat, dihina, maka timbul tidak terima, tidak ridlo.
 
3. Adanya manusia itu cinta akan istrinya, adalah bukti bahwa dia cinta akan dirinya, sebab istrinya adalah ladang bagi dirinya. Jadi masih ada hubungannya dengan dirinya.
4. Adanya manusia itu cinta akan anaknya, adalah disebabkan anak itu lestarinya dirinya sendiri. Jadi tetap artinya adalah mencintai akan dirinya sendiri. Dan adanya orang tua mencintai anak, sebab anak itu TSAMROTUL QOLBI (Anak itu buahnya hati). Sebagaimana tersebut dalam hadist nabi yang berbunyi:
QOLAA ROSUULULLOHI SHOLLALLOOHU ALAIHI WASALLAM.
ANNAA LIKULLI SYAJAROTUN TSAMROTUN, WA TSAMROTUL QOLBI AL WALADU
Artinya: Bersabda Rosululloh SAW.Sesungguhnya setiap pohon itu ada buahnya dan buahnya hati adalah anak".
 
Jadi mencintai anak, itu tidak lepas dari mencintai dirinya sendiri.

Rabu, 07 November 2012

CINTA ILLAHIYAH


Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 165 ; 
artinya: “Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah SWT”
Pengertian ayat tersebut diatas bahwa bukan berarti meniadakan cinta kepada makhluk, tetapi cintanya itu terus terarah hingga menembus sampai kepada Al-Khaliq, dan bahwa cinta kepada yang lain itu selalu dibawah naungan cinta kepada Allah Yang Maha Pencipta.
Seorang yang telah dikaruniai Allah rasa mahabbah kepada-NYA tentu juga akan mencintai dan menyayangi kepada ciptaanNYA, antara lain cinta Tanah Air, sehingga segala keadaannya menjadi terpelihara, teratur, terbina, tertib dan rapih sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya belum tentu seseorang yang mencurahkan rasa cintanya kepada makhluk semata, akan bisa sampai cintanya kepada Al-Khaliq.
Sesungguhnya mahabbah kepada Allah SWT adalah merupakan jembatan emas untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu orang-orang mukmin yang muttaqin terus berupaya untuk meningkatkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah SWT, dalam rangka memperoleh kebahagiaan didunia dan di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 64:
Artinya : “Bagi merekalah segala kebahagiaan dalam penghidupan dunia dan akhirat”.
Kemudian firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 14:
Artinya:”Manusia-manusia dihiasi rasa cinta serta keinginan diantaranya ; cinta kepada istri,kepada anak-anak dan kepada kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, juga kuda-kuda yang bagus dan binatang ternak lainnya. Demikian juga kepada sawah dan ladang dan kebun-kebun . Itulah kesenangan untuk hidup didunia. Dan kepada Allah itu sebaik-baik tempat kembali”
Pengertian ayat tersebut diatas, ialah janganlah kalah kadar cintanya kepada Allah SWT, dari cintanya kepada makhluk, sehingga Allah berfirman dalam ayat berikutnya dalam surat Al-Fajr ayat 20:
Artinya:”Dan kamu itu hanya mencintai kepada kekayaan saja”
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa semua (dunia dan akhirat) sebagai anugrah dari Allah SWT, yang diperuntukkan bagi manusia, akan tetapi manusianya sendiri karena lemah imannya sehingga terlibat hanya mencintai dunia. Oleh karena itu orang yang demikian diancam dalam Al-Qur’an surat At-Taubat ayat 20:
Artinya:”Katakanlah kepada mereka, jadi apabila Bapak-bapakmu, anak-anakmu, istri-istrimu, keluargamu, harta bendamu yang kamu dapati, dan perniagaan yang kamu takut rugi dan tempat-tempat tinggal(rumah) yang selalu kamu senangi melebihi cintamu kepada semuanya dari pada cintanya kepada Allah SWT, dan Rosulnya, serta jihad/berjuang di jalan NYA. Maka tunggulah olehmu sampai Allah SWT, mendatangkan azab-NYA, karena Allah SWT, tidak akan member petunjuk kepada orang fasik(melewati batas)”.
Pengertian ayat tersebut ialah: bahwa kita harus mengupayakan agar cintanya kepada Allah SWT. Jangan terkalahkan oleh cintanya kepada yang lain, yang mana Allah SWT member petunjuk dalam firmanNYA agar umat manusia mengikuti jejak Nabi-NYA.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 30:
Artinya :”Katakan oleh mu Muhammad, jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, hendaklah ikuti Aku, niscaya Allah menyatakan kasih sayangNYA kepadamu, juga diampuni segala dosa-dosamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa kewajiban kita semua mengikuti (menteladani) jejak langkah Nabi yang selalu menjadi panutan dan merupakan standar kita semua yang membawakan dan menyampaikan wahyu Illahi kepada ummat seluruhnya oleh kita semua, sehingga akan menyelamatkan di dunia dan di akhirat kelak.
Dan ajaran Al-Qur’an mencakup zahir bathin, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya:”Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir dan bathin”.
Kemudian sebagian isinya untuk mengatur Hablumminallah(hubungan dengan Allah) dan juga mengatur Hablumminannaas(hubungan dengan sesama manusia) dengan segala cara-caranya.
Untuk memiliki rasa cinta/mahabbah kepada Allah, Nabi Muhammad pernah menunjukkan kepada Sayyidina Ali ra.
Artinya:”Ciri – ciri cinta kepada Allah terlebih dahulu cinta dzikir kepadaNYA, dan sebaliknya, cirri-ciri membangkang kepada Allah, enggan dzikir kepadaNYA”. Semoga kita semua termasuk insane yang cinta dzikir kepada Allah agar senantiasa memperoleh rasa mahabbah/cinta kepadaNYA.