Minggu, 26 Juni 2011

Dibalik Rasa Percaya Diri


  Setiap manusia itu memiliki kehidupan pribadi. Kehidupannya jelas merupakan urusan dari manusia itu sendiri dan GUSTI ALLAH. Untuk itu, manusia harus tahu keberadaan diri pribadi dan tidak malah mengekor pada orang lain.
   Sering kita menjumpai orang-orang yang tidak bisa memutuskan sesuatu. Dia lebih sering mengambil ide orang lain untuk menyelesaikan sesuatu masalah yang membelenggu kehidupannya. Hal itu sah-sah saja. Tetapi, jika seorang manusia tetap saja menganggap ide orang lain itu yang paling benar, berarti dia tidak memiliki kepercayaan diri.
   Orang yang tidak memiliki kepercayaan diri, sama saja tidak tahu bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yang perlu diingat, GUSTI ALLAH itu ada dalam diri kita masing-masing. GUSTI ALLAH tidak menggantung di awang-awang. GUSTI ALLAH itu dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.
   Setiap orang memiliki perbedaan dalam pola pikirnya. Setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa sama. Ide orang lain itu belum tentu cocok dengan diri kita pribadi. Untuk itu, yang tahu bahwa sesuatu hal itu cocok bagi kita adalah diri kita sendiri. Hal itu sudah tercantum dalam kata-kata Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Magrwa. Artinya, Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.
   Hal itu memiliki arti, bahwa setiap manusia dengan manusia lainnya itu berbeda-beda. Tetapi pada hakekatnya, manusia itu satu. Semuanya berasal dari satu wiji (benih) yaitu GUSTI ALLAH. Jadi, Perbedaan tersebut harus kita syukuri, bukan malah kita sesali. Percaya pada diri sendiri merupakan wujud rasa syukur kita pada GUSTI ALLAH. Oleh karena itu, tumbuhkan rasa percaya diri Anda

Selasa, 14 Juni 2011

Iman Adalah Kehidupan

 Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan kehinaan.
Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.(QS. Thaha: 124)
Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersibkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah s.w.t., Rabb semesta alam. Singkatnya, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.
Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri.
Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan, kegelapan, dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak!
Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat.(QS. Al-An'am: 110)
Kini, sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa "tidak ada llah selain Allah". Betapapun, pengalaman dan uji coba manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyadarkan akal bahwa berhala-berhala itu takhayul belaka, kekafiran itu sumber petaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya, dan Allah benarbenar Sang Pemilik kerajaan bumi dan langit segala puji bagi Allah dan Dia sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Seberapa besar  kuat atau lemah, hangat atau dingin  iman Anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan Anda.
Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam
menerima takdir. Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rabb mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mereka.

Selasa, 07 Juni 2011

Ruh yang berdzikir

Ketika kita berdzikir dengan posisi duduk menghadap qiblat dan jangan bergerak. Qolbu juga kita suarakan (dzikir) Allah… Allah… Allah… terus sampai badan kita tak merasakan apa-apa. Qolbu terus bersuara….. masukkan lagi ke kedalaman yang paling dalam, lalu suarakan lagi dzikrullah ke kedalaman yang paling dalam itu, bersuara Allah… Allah… Allah… Setelah itu dengarkan dengan qolbu-mu, samakan dengan suara qolbumu. Sampai muncul adanya getaran. Dan rasakan getaran, kehidupan Roh terasa hidup dan makin hidup, hidup yang lebih hidupi dengan hidupnya Roh yang sedang berdzikir. Dan kita bisa katakan ; Hidup Dalam Roh yang Sedang Berdzikir. Dan kita bisa lebih mengenal Roh kita lewat dzikrullah.

Mari kita perhatikan sabda Rosullulah Muhamad Saw;

لِكُلِّ شَىْءٍ صَقَالَةٌ وَصَقَالَةُ الْقَلْبِ ذِكْرُاللهِ

Bahwasanya bagi tiap sesuatu ada alat untuk mensucikan dan alat untuk mensucikan Qolbu itu ialah Dzikrullah.”

Pintu awal memasuki alam Roh adalah lewat qolbu, kalau qolbu sudah dibersihkan dengan dzikir qolbu, maka lambat laun Roh ikut menyuarakan dzikir. Dalam fase ini prosesnya melalui ritual-ritual Khusus. Dengan mengkhususkan diri dalam menjalankan ritual, maka kebersihan qolbu akan nampak dari kebeningan dalam pemikiran, karena qolbu selalu mengumandangkan dzikir, sedangkan Roh, dalam kondisi kesuciannya, ikut melantunkan dzikir. Dzikirnya Roh mampu merontokkan hijab jiwa yang sekian lama membelenggunya yang sulit dipisahkan.

Dalam surat As-Syam ayat 9 dan 10, Allah swt berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكَّهاَ ( 9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا (10)

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya

10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya.

Selalu Berdzikir kepada Allah swt akan senantiasa menguatkan iman dan taqwa seseorang, sekaligus membersihkan qolbu serta Roh. Dalam perjalanan hidupnya, yang dipikirkan hanya pendekatan diri kepada Allah swt. Ilham-ilham pun sering didapatkan, menerima ilham lewat qolbu dan Roh sebagaimana firman Allah swt. Dalam surat As-Syam ayat 8:

فَاَلْهَمَهَافُجُوْرَهَاوَتَقْوَهَا (الشَّمْس 8)

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaannya”(As-Syam ayat 8). Jadi Allah swt juga masih menguji dan memberi cobaan kepada orang yang taqwa, cobaan itu berupa: kejelekan serta kehinaan. Apakah dia Oleng, goyahkah taqwanya? Atau tambah kokoh taqwanya? Sesungguhnya orang-orang yang taqwa, dia mampu mengantisipasi dan menangkal dengan kesabaran dan ketabahan hati. Dia tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan yang menimpanya dan senantiasa mengokohkan posisi dalam kesuciannya yang tidak akan dicemari oleh siapapun. Karena Roh tetap suci. Jadi yang bisa dikotori itu adalah jiwa bagian luar, itu-pun hanya limbasan dari kotornya qolbu yang dililit pengaruh dari hawa nafsu serta keinginan yang menyesatkan.

 

Wallahu a’lam.

Selasa, 24 Mei 2011

Menghidupkan Hati

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal’khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal’hadi ila shirotikal mustaqiim wa’sholallahu alaiihi wa’ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.
Hati yang mati akan hidup kembali bila menerima benih Tauhid dari hati yang hidup, karena benih seperti itu sehat dan bersih, cerdas dan aktif. Tidak ada pohon yang tumbuh dari biji benih yang kering dan kerontang dan mati.Hati yang hidup adalah hati yang sudah digerakan, dibangun dan di besarkan dengan Kalimat Tauhid. Orang yang memiliki hati yang hidup adalah orang yang berjiwa besar karena ia dekat dengan Allah Yang Maha Besar.
Kalimat Tauhid yaitu La ilaha illallah tersebut ada pada dua tempat dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan sebagai berikut:
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila di katakan kepada mereka La ilaha illalla, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata,”Apakah kami harus meninggalkan Rabb-Rabb kami karena seorang penyair gila.” (QS Ash-Shaffat:35-36)

Inilah keadaan orang biasa atau orang awam, yang hanya memandang kepada yang zahir/tampak, dapat dilihat oleh mata kasarnya, dan wujud zahir yang di kenalnya saja yang dikenalnya sehingga mereka mereka mempertuhankan benda-benda zahir itu.

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Rabb selain Allah (La ilaha illallah) dan memohon ampun atas dosa yang kamu perbuat serta dosa orang-orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS Muhammad:19)
Firman Allah itu adalah petunjuk bagi orang-orang Mukmin sejati yang takwa kepada Allah Swt.

Syyaidina Ali meminta junjungan Nabi besar Muhammad Saw untuk mengajarkan amalan yang paling mudah, namun bermutu paling tinggi, sehingga ia dapat lebih mudah mencapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Maka Baginda Rasulullah Saw termenung sejenak menunggu datangnya malaikat Jibril membawa jawaban dari Allah.
Tak lama kemudian malaikat Jibril pun datang mengajarkan Rasulullah Saw. La ilaha sambil memalingkan mukanya kekanan, kemudian menyebut illallah sambil memalingkan mukanya kekiri sambil menuju hati. Malaikat Jibril mengulangi perbuatan ini sebanyak tiga kali. Rasulullah Saw mengikuti apa yang dilakukan malaikat Jibril sebanyak tiga kali pula, kemudian Rasulullah saw mengajarkan kepada Syyaidina Ali.
Sayyidina Ali adalah orang yang pertama kali menanyakan hal ini dari orang yang pertama kali mendapat pelajaran dari Malaikat Jibril tentang cara melakukan amalan yang paling mudah tapi paling tinggi mutunya

Senin, 16 Mei 2011

DZIKRULLOH


Kita diperintah menegakkan sholat, lalu apakah perlunya kita menegakkan sholat ?
Didalam Al Qur-an diterangkan :
WA-AQIMISH SHOLAATA LIDZIKRII. ( Q.S. Thoha / 20 / Ayat 14 )
Artinya : " Dan tegakkanlah sholat untuk dzikir kepadaKu ".

Jadi perlunya ialah : ( LIDZIKRII ) : " untuk dzikir kepadaKU ".

Adapun dzikir itu bermacam-macam :

1. Ada dzikir dengan lesan.
Sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :
 IDZA DZUKIROLLOOHU WAJILAT QULUUBUHUM.
( Q.S. Al Haj / 22 / Ayat 35 ).
Artinya :" Ketika disebut Nama Alloh, bergetarlah hatinya ".
Jadi ketika Asma Alloh disebut dengan lesan maka bergetarlah hatinya.
Jadi ini adalah dzikir secara lesan.

2. Ada dzikir dengan hati.
Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur-an :
WADZKUR ROBBAKA FII NAFSIKA TADLORRU`AN WAKHIIFATAN WADUUNAL JAHRI MINAL QOULI
( Q.S. Al A'rof / 7 / Ayat 205 ).

Artinya : " Dzikirlah kepada Tuhanmu didalam hatimu dengan ndepe-ndepe ( merendahkan diri / tunduk ) dan merasa takut, dan tidak dengan jahar dari ucapan ".

Ayat ini menerangkan bahwa dzikir dengan hati itu :
·         Ada dzikir jahar ( dzikir dengan hati dan dengan lesan ).
·         Dan ada dzikir sirri ( dzikir dengan hati 

Adapun penjelasannya masing-masing ialah :
a). Dzikir Sirri ( dzikir dengan hati saja ).

Perintah dzikir sirri ini disebutkan dalam Al Qur-an :

WADZKUR ROBBAKA FII NAFSIKA TADLORRU'AN WAKHIIFATAN WADUNAL JAHRI.
( Q.S. Al A'rof / 7 / Ayat 205 ).
Artinya :" Dzikirlah kepada Tuhanmu didalam hatimu dengan ndepe-ndepe (merendahkan diri / tunduk/ ndingkluk) dan merasa takut, dan tidak dengan jahar ".
                        
" Dengan merendahkan diri (sarono ndepe-ndepe / ndingkluk) ".
 " Dengan merasa takut ".
 " Dan bukan dzikir jahar ".

Tapi kadang-kadang waktu dzikir sirri itu kelihatannya tadlorru' ( menunduk ) tapi ternyata ngantuk, atau kadang-kadang diwaktu jum`atan duduknya didepan khotib, kelihatannya dzikir sirri, ternyata juga tidak tadlorru' tapi ngantuk.

b). Dzikir Jahar ( Dzikir dengan hati dan dengan lesan ).

Ini diterangkan dalam lanjutan ayat diatas :
MINAL QOULI ( Q.S. Al A'rof / Ayat 205 ).  Artinya : " Dari ucapan ".
 Jadi ada dzikir jahar dan ada dzikir sirri.

3. Ada lagi dzikir haal ( dzikir dengan tingkah ).

Dzikir haal / dzikir tingkah itu bukan dzikir hati dan juga bukan dzikir lesan.
Adapun dzikir haal / dzikir tingkah ini adalah badannya yang dzikir; dzikir dengan berdiri, dzikir dengan duduk, dan dzikir dengan berbaring, sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :
YADZKURUUNALLOOHA QIYAAMAN WAQU'UUDAN WA'ALAA JUNUUBIHIM ( Q.S. Ali Imron / 3 / Ayat 191 )
Artinya : " Dzikir kepada Alloh dengan berdiri dan dengan duduk dan dengan berbaring ".

Jadi dzikir itu bermacam-macam ; badan bisa dzikir, lesan bisa dzikir, dan hati juga dzikir.

Sehingga dzikir :
- Ada dzikir dengan lesan ( Kalamul `Ibaarot).
- Ada dzikir dengan hati ( Kalamudh dhonni ).
- Dan ada dzikir dengan tingkah ( Kalamul isyaaroh ).

Adapun perintah dzikir yang ada dalam Al Qur-an :
WA-AQIMISH SHOLAATA LIDZIKKRII. ( Q.S. Thoha / 20 / Ayat 14 )
ini maksudnya dzikir dengan menggunakan apa ?

Sholat itu adalah : (SHILLATUN) artinya : hubungan.
(SHILLATUN ILALLOOH) artinya : Hubungan kepada Alloh .

Adapun yang dimaksud dzikir dalam ayat ini adalah dzikir yang meliputi :
1.   Dzikir dengan lesan. Yakni diwaktu sholat, lesan mengucap " Alloohu Akbar ".
2.   Dzikir dengan hati.   Yakni diwaktu sholat, hati ingat kepada Alloh, hatinya tidak keluyuran.
3.   Dzikir dengan hal.  Yakni dzikir dengan anggota badan :
     – Badan berdiri mengisyaratkan huruf ( alif )
     – Ruku` mengisyaratkan huruf ( lam )
     – Sujud juga mengisyaratkan huruf ( lam )
     – Kemudian duduk mengisyaratkan huruf ha' )

Dan huruf-huruf tersebut yakni : Huruf alif, huruf lam, huruf lam kedua, dan huruf ha', apabila digandeng maka bunyinya menjadi lafadh (ALLOH).

Maka sholat yang memakai kalamul isyarat ( berdiri, ruku', sujud dan duduk ) itu apabila kita lihat bunyinya juga lafadh :(ALLOH).

Dan tingkah berdiri, ruku', sujud, dan duduk, bila digandeng maka menjadi sholat. 
    
Jadi sholat itu ialah ibadah yang meliputi :
(MA`RIFATUN BIL QOLBI)
(QOULUN BIL LISAANI)
(`AMALUN BIL ARKAANI).

Tidak berbeda 'luar' dengan 'dalam' nya, dan tidak berbeda 'dalam' dengan 'luar' nya, kedua-duanya itu sama-sama : AQIMISH SHOLAATA LIZDIKRII.

Makanya tidak ada dzikir yang seperti sholat , karena sholat adalah dzikir yang meliputi keseluruhan, yaitu meliputi dzikir dengan lesan, dzikir dengan hati, dan dzikir dengan tingkah.

Jadi sholat itu adalah dzikir 'luar' dan 'dalam', dzikir 'dalam' dan 'luar'. 
Apabila 'yang luar' mengucap " Alloohu Akbar ", meskipun dengan berdiri, ruku', sujud dan duduk, akan tetapi kalau hatinya itu ngelencer kemana-mana maka itu namanya ' yang dalam ' tidak ikut dzikir, tidak ikut sholat. Dan sholat yang seperti ini adalah sholat yang tidak sempurna, atau sholat yang tidak meliputi :
QOULUN BIL LISAANI, `AMALUN BIL ARKAANI, MA`RIFATUN BIL QOLBI